Tak terasa hari sudah semakin larut. Aku begitu hanyut dalam setiap kata yang aku baca dalam diary ibuku, setengah bukupun belum aku selesaikan. Aku bisa membayangkan apa saja yang ibu lakukan selama masa mudanya, bagaimana perasaannya. Apa saja yang diingininya dengan penuh hasrat. Hanya saja itu membuatku heran kenapa aku tidak seperti mamaku. Padahal hampir setiap orang yang aku tanyakan pasti akan menjawab anak pertama perempuan itu kalau dewasa peringai seperti ibunya. Tapi aku beda dengan mamaku. Bagaikan air dan api, itulah kami berdua. Mamaku airnya dan tentu saja aku apinya.
Kepalaku terasa pening setiap kali memikirkan hal itu. Begitu banyak prasangka-prasangka buruk setiap kali aku memikirkan hal ini. Bertahun-tahun aku mencoba mengenyahkan segala prasangka buruk yang timbul ketika aku mulai menyadari perbedaan yang begitu besar antara aku dan mamaku. Dan mengenai papaku, beliau adalah orang yang tenang juga sama seperti mama. Hal ini makin menguatkan segala prasangka buruk yang baru berupa benih itu beberapa tahun yang lalu. Sungguh, aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk melupakannya. Tetapi, aku tidak bisa.
Sekarang, aku butuh istirahat, sebelum kepala ini pecah. Mungkin besok aku akan menemukan jawaban dari pertanyaanku beberapa tahun ini dalam diary mama. Semoga saja seperti itu.
****************************************
01 Juli 1980
Diary-ku, aku ingin curhat mengenai sesuatu kepadamu.
Hari ini aku bertengkar besar dengan ibu mertuaku. Dan ini bukan karena kesalahanku semata, tapi juga kesalahan ibu mertuaku. Sesak dada ini Di. Aku sudah mencoba untuk bertahan sebisa mungkin untuk tidak membencinya selama kehamilan. Akan tetapi kesabaranku seakan-akan sudah mencapai batas akhirnya. Aku tidak pernah menyangka akan terasa sakit seperti ini. Selama ini jika ada yang menyakiti aku hanya cuek saja. Ibu mertuaku adalah orang ke dua yang... entahlah Di bagaimana kata-kata dapat menggambarkan sakit yang aku rasakan. Apa karena selama ini aku tidak pernah dimarahi dan marah terhadap seorang yang bernama ‘ibu’? Inikah rasanya mempunyai seorang ibu? Apakah mungkin ini yang terjadi dalam hubungan ibu dan anak perempuannya? Apakah ini juga akan terjadi dengan anak perempuanku?
Entahlah Di, hanya Tuhan yang tahu.
Maafkan aku Di, aku tidak bisa bercerita kepadamu hari ini. Air mata ini tidak berhenti mengalir. Pikiranku juga sangat kacau. Mudah-mudahan besok semuanya baik-baik saja Di.
****************************************
03 Juli 1980
Hai Di,
Maafkan aku, karena tidak mengisimu kemarin. Kemarin aku benar-benar tidak bergairah sama sekali untuk melakukan segala sesuatu. Bahkan, ini rahasia antara kita berdua, aku kemarin tidak mandi seharian. Yang ada aku hanya mencuci muka dan gigiku. Seluruh kekuatan serta sukacitaku seakan habis, hilang begitu saja. Kalau mau dipikir-pikir, sehabis aku bertengkar dengan mertuaku, aku tidak bersemangat melakukan hal-hal yang biasanya kulakukan.
Tapi itu kemarin. Sekarang aku kembali bersemangat, karena pagi ini akhirnya ibu bicara sama aku. Dan akhirnya, kami saling memaafkan dan saling mengakui kesalahan masing-masing. Entah apa yang dibicarakan Jason dengan ibunya itu kemarin malam. Tapi aku tidak bisa menutupi rasa bahagiaku ketika mertuaku berbicara denganku. Perasaan lega muncul dari hatiku. Bahkan sukacita dan semangat yang tadinya menghilang secara tiba-tiba, kembali juga secara tiba-tiba. Membuat aku optimis akan hari ini. Semuanya akan baik-baik saja, itu yang terlintas di kepalaku sehabis aku bincang-bincang dengan mertuaku sebelum akhirnya aku masuk ke dalam dapur.
Tadi juga aku sempat bercerita kepada anak dalam kandunganku. Aku ajarkan kepadanya bahwa membenci itu tidak ada gunanya. Dan betapa memaafkan seseorang itu sangat melegakan. Aku berharap anakku nantinya dapat menjadi anak yang dapat memaafkan orang lain dan dirinya sendiri. Aku sengaja menuliskan ini Di, supaya nanti anakku dapat belajar akan hal memaafkan ini, jika saja aku tidak sempat mengajarkan pelajaran berharga ini. Siapa yang bisa tahu akan apa yang terjadi di masa yang akan datang. Mungkin nanti aku tidak mempunyai waktu buat anak-anakku, karena pekerjaan atau mengurus keperluan keluarga kami mungkin? Buat jaga-jaga saja Di.
Hari ini aku dan mertuaku memasak sesuatu yang istimewa untuk Jason. Makanan kesukaannya dari dahulu, Makaroni panggang saus tomat keju. Masakan kreasi mertuaku, yang mana Jason juga sangat mahir memasak masakan itu. Harus aku akui Di, bakat memasak Jason diturunkan dari mertuaku, mamanya. Dan aku rasa aku harus banyak belajar memasak dari dirinya.
Apa yang terjadi hari ini Di, benar-benar menakjubkan. Aku terpesona melihat setiap gerakan tangan mertuaku sewaktu memasak. Dan bau masakannya. Membuat perutku menyanyikan lagu keroncong sealbum. Rasanya apalagi. Tidak kalah dengan koki restoran terkenal di kota kami. Kira-kira anakku bakalan seperti oma dan papanya tidak ya?
Jangan kuatir Di, bukannya aku tidak pede dengan apa yang ada pada diriku. Aku hanya mencoba untuk mencari kebaikan dalam mertuaku dan tentunya suamiku, Jason. Jangan salah Di, Jason sama dengan aku dan manusia lainnya di dunia ini, TIDAK SEMPURNA. Bukannya dari fisik Di, tapi dari mental, sifat, pembawaan diri bahkan cara berpikir setiap manusia di dunia ini, tidak ada yang sempurna. Kalau ada maka dia adalah penguasa dunia ini, dan tidak ada yang seperti itu selain sang Pencipta segala sesuatunya, Tuhan yang aku percaya. Kalau ada yang bilang Tuhan tidak sempurna, maka orang itu pasti orang yang berpikiran sempit. Menerutku Di, segala sesuatu yang terjadi di dunia ini, entah baik atau buruk, pasti ada sesuatu di balik semua itu. Sesuatu yang indah. Hanya saja kita sebagai manusia tidak bisa melihat hal yang indah itu. Misalkan saja perang dunia I dan II, banyak orang berpikir semua itu tidak perlu terjadi, tidak manusia dan segudang pernyataan negatif lainnya. Tapi siapa yang tahu cerita-cerita di balik perang itu. Tidak semuanya merugikan. Yang ingin aku katakan Di, semuanya itu memang sudah direncanakan Tuhan dan pada waktu Tuhan sesuatu yang indah akan muncul ke permukaan. Sama halnya dengan diriku Di. Mungkin jika saja aku tidak ‘ditetapkan’ menjadi anak yatim piatu yang sebagian besar hidupnya dihabiskan di panti asuhan, aku tidak pernah akan mengenal Jason, bahkan aku tidak pernah menikahinya. Dan inilah aku, isteri dari Jason Chandawinata yang sebentar lagi akan menjadi ibu dari anak yang ada dalam kandunganku. Dan aku sungguh bersyukur akan hal itu, meski masa laluku tidak seindah masa lalu Jason. Tetapi tetap Tuhan menjalankan setiap rencananya dalam hidupku, dalam hidup Jason, dalam hidup mertuaku, dan tentu saja dalam hidup anakku nantinya.
Di, kayaknya cukup sekian dulu. Sekarang sudah larut malam dan aku harus bangun beberapa jam lagi, kembali melakukan kegiatan yang telah dirancang oleh ibu mertuaku. Sampai jumpa besok atau lusa atau minggu depan. Kalau aku sempat. Selamat tidur Di, mimpi indah!
****************************************
24 Juli 1980
Hai Di,
Aku punya kabar baik buatmu. Hari ini aku melahirkan. Anak kembar. Bisa kau bayangkan? Selama sembilan bulan aku mengandung, aku selalu mengira hanya akan melahirkan seorang anak bukannya dua. Yang lebih menggembirakannya lagi, anak yang lahir berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Pagi ini mereka lahir dengan selamat dan kondisi mereka sangat sehat dan tidak cacat. Kami semua bahagia. Terutama Jason. Air mata kebahagian meluncur dari kedua matanya yang teduh itu saat melihat untuk pertama kali dua anak yang dinantikannya. Bahkan mertuaku juga tidak kuasa menahan air matanya.
Aku sungguh bersyukur kepada Tuhan Di, karena anak-anak yang diberikan-Nya kepadaku. Meski tadi, sebelum melahirkan, aku sempat ketakutan membayangkan apa yang harus aku lakukan dan rasa sakit saat melahirkan. Tapi puji Tuhan, semuanya baik-baik saja. Kebahagiaan, kelegaan, dan sukacita melingkupi tidak hanya aku tapi juga Jason dan ibu mertuaku.
Yang lucunya, karena terlalu bahagia, Jason lupa mengabarkan perihal kedua anak yang belum kami namai kepada keluarganya yang lain. Terutama kepada bapak mertuaku yang saat ini tidak dapat berkumpul dengan kami karena kondisi kesehatannya yang kurang baik. Sedih juga jadinya Di.
Di, aku harus memberi susu kepada anak-anakku dulu, nanti kita lanjutkan lagi pembicaraan kita. Bye....
**********************************************
26 Juli 1980
Hari ini aku sedih sekali Di, bukan karena harus kembali ke rumah, tetapi karena oang tua salah satu teman kuliahku meninggal dunia kemarin. Aku mengetahui hal itu dari teman kuliahku yang lainnya. Aku, dia dan beberapa orang lainnya cukup dekat semasa kami kuliah dulu. Dan entah mengapa aku merasa sedih ketika mendengar hal itu. Kehilangan orang tua adalah salah satu hal yang menyedihkan di dunia yang fana ini. Dan aku tahu bagaimana rasanya. Masih mendingan kalau ada alasan kenapa sampai kita kehilangan orang tua, akan tetapi jika tanpa alasan kita kehilangan orang tua itu lebih menyakitkan. Dan entah dimana orang tuaku sekarang berada.
Sebenarnya Di, aku ingin pergi menemui temanku itu, tapi aku tidak bisa. Karena selain rumahnya jauh, di kota lain yang letaknya sangat berjauhan dengan kotaku, aku juga tidak bisa meninggalkan anak-anakku yang baru berumur dua hari. Aku ingin menghubunginya, tetapi aku maupun teman-teman lainnya tidak mengetahui nomor telefon rumahnya yang baru. Berita soal meninggalnya bapaknya pun sampai ke telinga teman-teman dan aku melalui salah satu mantan pacar temanku itu, yang statusnya sekarang berubah menjadi teman biasa. Hampir aku lupa, Rini, itu nama temanku yang saat ini entah berada dimana dan sedang berduka. Entahlah Di, aku tidak tahu harus bilang apa lagi sama kamu soal temanku yang satu ini.
Tapi Di, hari ini aku tidak boleh bersedih di depan anak-anakku, nanti mereka ikutan sedih lagi. Bisa repot jadinya. Kasihan ibu mertuaku. Berapa lama lagi mertuaku harus meninggalkan belahan jiwanya yang sedang sakit.
Soal anak-anakku, aku tidak pernah bisa berhenti berterima kasih kepada Tuhan karena telah memberikan mereka kepadaku. Malaikat-malaikat mungil yang sangat cantik dan tampan. Sungguh Tuhan itu luar biasa. Aku sendiri kagum dibuatnya. Bayangkan saja Di, dari sperma dan sel telur bisa terbentuk satu bahkan dua manusia dalam perut manusia lainnya. Dan hal ini membuatku makin mengagumi Tuhan yang ku percaya.
Tapi Di, kayaknya sampai di sini dulu. Sekarang saatnya minum ASI bagi anak-anakku. Nanti kalau aku sempat, aku akan mengabarkanmu sesuatu. Bye.....
****************************************
Hari telah berganti, bahkan matahari telah berada pada puncaknya, ketika aku menutup diary ibuku. Rasa lapar yang aku rasakan tidak terbendung lagi. Ya, aku melanjutkan kembali aktifitas yang aku lakukan kemarin hingga subuh tadi. Dan entah mengapa, meski aku tidur jam tiga subuh, tetapi tetap aku bangunnya seperti biasa. Apa mungkin karena rasa penasaran yang ada dalam diriku dalam mencari penjelasan yang pasti kenapa aku berbeda dengan orangtuaku.
Tapi semuanya aku nikmati. Jauh dari tuntutan pekerjaan, memang sangat kubutuhkan saat ini. Bahkan jauh dari dirinya untuk sementara waktu sepertinya kuperlukan. Jonathan, dia yang saat ini ingin ku hindari. Bukan karena sesuatu yang buruk, hanya saja, aku belum siap menjawab lamarannya waktu itu. Dan aku belum menemukan alasan yang tepat untuk menerima maupun menolaknya.
Sambil memandang ke luar jendela, aku terkenang masa kecilku. Ketika aku bermain dengan ayahku dan saudara kembarku. Tak terasa air mata mulai menetes di pipiku. Terlintas bagaimana aku tidak rela melepas kepergian ayah yang sangat kucintai lima tahun yang lalu. Aku tidak rela melepasnya karena aku belum puas dengan jawaban yang diberikannya sebulan sebelum kematiannya.
“Kamu adalah anak kandung kami berdua, Jew. Bahkan kamu dan saudara kembarmu adalah kebahagiaan kami berdua. ‘Harta yang tak ternilai’, itu yang ibumu sering katakan kepada ayah. Dan memang kau dan Jeremiah adalah harta kami yang tak ternilai. Kamu harus ingat itu.”
Itu yang selalu dikatakan oleh ayahku. Dan jawaban itu tidak memberikan kepuasan kepadaku. Aku tidak tahu harus bertanya kepada siapa lagi selain kepada kedua orangtuaku yang saat ini aku yakin telah berkumpul kembali di surga, meninggalkanku dengan jawaban yang tidak memuaskan.
Saat ini aku tidak ingin membuang tenagaku dengan emosi yang tak pasti ini. Aku hanya berharap malam ini Jeremiah dan isterinya Nina akan mengajak keluar jalan-jalan atau mungkin malam di luar. Karena aku sangat merindukan kota ini. Lima tahun yang lalu adalah terakhir kali aku datang ke kota ini. Dan tidak banyak yang berubah dari kota ini. Termasuk keindahan alam yang dimilikinya membuatku terpesona setiap kali aku melihatnya.
Mungkin aku lebih baik membaca diary ibuku di halaman belakang kami. Apalagi pada cuaca seperti sekarang ini. Aku hanya berharap dapat menemukan jawaban yang pasti atas semua pertanyaanku.
Friday, September 18, 2009
Diary Ibuku (bag. III)
Posted by Jennifer at 1:13 AM
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment