BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS »

Friday, August 14, 2009

Diary Ibuku (bag. I)

06 April 1980
Tak terasa sudah tiga bulan semenjak dokter memberitahu perihal kehamilanku yang memasuki triwulan pertama. Aku hampir saja kehilangan calon bayi yang saat ini berada dalam perutku. Itu karena aku tidak mengetahui hal kehamilanku ini, aku sama sekali tidak sengaja. Untung saja waktu itu dokter mengatakan bahwa anak dalam kandunganku baik-baik saja. Dokter hanya menyarankan aku untuk memperbanyak waktu istirahat. Aku dan suamiku, yang senangnya minta ampun, sangat bersyukur bahwa anak kami baik-baik saja. Kehamilan ini sudah sangat kami nantikan semenjak kami saling mengucapkan janji di hadapan Tuhan di gereja. Hatiku saat ini sangat berbunga-bunga. Kebahagiaan yang kurasakan tidak dapat kuungkapkan dengan kata-kata.

Hari ini aku baru sempat menulis kamu, diary-ku, karena selama tiga bulan ini aku harus berbaring di tempat tidur – sungguh suatu kegiatan yang cukup membosankan. Kalau selama sehari aku berbaring terus, bukanlah masalah sama sekali. Tetapi tiga bulan itu bukanlah waktu yang pendek. Tapi kata suamiku, itu semua demi kebaikan anak kami. Kira-kira, anakku bosan atau tidak ya, menunggu mamanya bangkit dari tempat tidur? Memikirkan hal itu membuatku merasa sebagai calon ibu yang cukup konyol yang pernah ada.

Tapi aku penasaran juga, kira-kira mukanya, matanya, warna kulitnya, hidungnya, jari-jarinya mirip siapa ya? Kata orang, kalau anak pertama itu perempuan, maka besar kemungkinan wajahnya mirip ibunya, sedangkan wataknya mirip ayahnya. Begitu juga sebaliknya. Kalau anak pertama laki-laki, mukanya mirip bapaknya, dan wataknya mirip ibunya. Tapi.... kalau kembar bagaimana coba? Jadi bingung sendiri. Yang pasti bagaimana pun nantinya, semuanya itu adalah titipan Tuhan yang harus dijaga. Tapi, aku sempat meragukan diriku ini, apakah aku sanggup menjadi ibu yang baik bagi anakku kelak?

Punsingin! Nanti aja, daripada kepalaku sakit memikirkan segala kemungkinan yang terjadi. Pasti....ya pasti aku bisa menemukan cara untuk mengasuh anakku. Sekarang yang harus aku pikirkan bagaimana caranya aku menghabiskan waktu di rumah sampai melahirkan nanti. Habisnya diary, suamiku tidak mau terjadi apa-apa sama aku makanya dia telepon ke kantor aku dan memberitahukan soal pemunduran diriku kepada bosku. Padahal jabatanku sudah bagus di perusahaan itu. Untungnya bosku memberikan penawaran kepada suamiku mengingat aku masih terikat kontrak dengan perusahan itu.

Jadi bingung juga......

Ngomong-ngomong diary, kayaknya untuk hari ini cukup sekian saja dulu. Nanti kalau ada berita terbaru aku kasih tahu ke kamu?! Aku mau masak dulu buat suamiku tercinta.


**************************************************


09 April 1980
Diary, maafkan aku sekali lagi karena menjumpaimu lagi semenjak pertemuan terakhir kita tiga hari lalu. Aku sempat dimarahi sama Jason, suamiku karena menyiapkan makanan buatnya. Salah satu pantangan dari dokter, mengingat kandungan yang tidak cukup kuat. Tapi diary, waktu itu entah kenapa aku ingin sekali membuatkan makanan buat suamiku tercinta. Dulu, ketika aku belum hamil boro-boro buatkan makanan, sarapan saja disiapkan sama pembantu kami. Aku kesal juga dilarang ini itu sama dokter dan suamiku. Mereka tidak tahu betapa tersiksa batin ini, betapa berat menahan diri ini melakukan kegiatan yang rutin aku lakukan setiap hari dan menggantinya dengan kegiatan yang tidak biasa aku lakukan.

Seluruh buku dalam rumah ini sudah habis dibaca olehku, bahkan album foto yang jumlah cukup banyak, kulahap sampai habis. Ini alasannya kenapa kamu kosong selama tiga hari. Dan jujur saja aku tidak terbiasa membaca buku sebanyak itu dalam waktu yang singkat, bahkan semua buku yang aku baca kebanyakan milik suamiku. Dia memang rajin membeli dan membaca buku. Itu salah satu alasanku memilihnya sebagai pendamping hidup sampai maut memisahkan kami berdua.

Jason, suami tercintaku, adalah salah satu berkat Tuhan yang luar biasa dalam hidupku. Tidak pernah terlintas sedikitpun untuk menghabiskan hidupku bersamanya. Kami berdua bertemu secara tidak sengaja di acara ulang tahun temanku yang ternyata masih saudaranya. Aku yang waktu itu masih terluka tidak ingin mengenal dirinya lebih lanjut, karena aku tidak ingin merasakan sakit yang sama. Tapi Jason tidak pernah menyerah. Seiring waktu terus berjalan, muncul perasaan ingin mengenalnya lebih lagi. Aku sangat mengagumi suamiku itu, dari dahulu hingga sekarang. Meskipun mukanya tidak seganteng Ari Wibowo, tapi kepribadiannya yang membuat aku terpesona. Oke, mukanya tampan kok, setidaknya menurut aku. Aku sungguh bersyukur dapat menemukan orang yang bisa kukasihi. Aku berharap di masa mendatang anakku dapat menemukan orang yang dikasihinya dan mengasihinya dengan segenap hati.

Kembali ke masa lalu, membuatku ingin tertawa sendiri. Betapa suamiku dengan sabar mencoba berbagai cara agar aku kembali mempercayai bahwa cinta itu ada dan cinta itu indah, serta membuatku tersenyum kembali. Salah satu kenangan indah yang tidak ingin kulupakan. Aku teringat kembali pada saat kami saling mengucapkan janji pernikahan kami di gereja, dihadapan Tuhan. Pancaran matanya yang teduh, penuh kasih membuatku tidak sabar untuk menjalani hidup berdua dengan dirinya. Meski waktu pacaran kami singkat, akan tetapi saat itu aku yakin bahwa dia adalah orang yang dikirim oleh Tuhan untuk menjadi pendamping hidupku sampai mataku tertutup untuk selamanya.

Dan sekarang aku tidak sabar lagi ingin melihat bagaimana suamiku memainkan peranannya sebagai ayah dari anakku ini. Dan aku juga tidak sabar ingin mengajarkan banyak hal kepada anakku ini. Kalau begini ceritanya diary, kayaknya aku bisa menikmati masa kehamilanku ini. Aku tidak sabar lagi memberikan kasih yang ada kepada anakku.


**************************************************


10 April 1980
Dear Diary,
Kemarin malam aku bertengkar sama suamiku. Hanya karena aku mengutarakan rencanaku untuk meneruskan pekerjaanku setelah melahirkan anak kami. Tapi dianya tidak setuju dengan rencanaku. Karena menurut dia, peran aku terhadap pertumbuhan anak kami itu penting. Dan, iya, aku tahu peranan cukup penting dalam proses pertumbuhan anak kami berdua, tetapi aku masih terikat kontrak dengan perusahaan tempatku bekerja. Tapi dia tetap bersikeras dengan keputusannya. Dan kamu tahu Di, ketika aku ingatkan kesepakatan yang dibuat bersama bosku, dia malah marah-marah. Aku jadi bingung.

Jujur saja Di, ini pertengkaran pertama kami setelah tiga tahun menikah. Sedih juga harus bertengkar dengan suami, akan tetapi – hihihii – lucu juga, ternyata bertengkar dengan suami itu seninya berbeda dengan saat kita bertengkar dengan orang lain. Aku tidak akan melupakan momen ini. Salah satu momen terbaik kami. Soalnya dengan begini aku jadi bisa tahu apa keinginan suamiku. Maklum saja selama ini kemauanku saja yang dituruti, sedangkan kemauannya tidak pernah terwujudkan, berhubung dia jarang mengungkapkannya kepadaku. Memang Tuhan itu luar biasa, bisa menciptakan manusia dengan sifat yang berbeda-beda. Serupa tetapi tidak sama. Bahkan hebatnya lagi Tuhan menyatukan dua manusia, dua jiwa, dua karakter yang berbeda dalam suatu ikatan yang dinamakan pernikahan.

Sungguh Di, aku sangat bersyukur bisa disandingkan dengan Jason, suamiku tercinta. Meski, dan mungkin, terlalu awal bagiku untuk menilai kelangsungan hubungan kami, tapi aku yakin, meski tidak akan sepenuhnya mulus dan bakalan hal-hal yang tidak diprediksikan sebelumnya, hubungan kami berdua tetap dijaga oleh Tuhanku.

Jadi mengantuk nich. Di, nanti kita lanjutkan lagi yach. Aku ingin tidur siang dulu, nanti kita lanjutkan lagi. Kalo bukan sebentar malam mungkin besok aja sekalian. Ok?!

Selamat tidur Di!!!


**************************************************

10 Mei 1980
Halo Di, apa kabar?
Sudah sebulan semenjak pertemuan kita terakhir. Sebulan ini lancar-lancar saja. Aku dan suamiku sudah berbaikan dari pertengkaran kami terakhir. Yang benar saja Di, masakan aku harus bertengkar terus menerus dengan kekasihku. Dan entah mengapa akhir-akhir ini aku jadi sering mengalah kepadanya. Aku menjadi lebih pengertian terhadap segala sesuatu yang terjadi disekitarku, terutama untuk kejadian-kejadian yang buruk. Mungkin ini bawaan mengandung, mengingat selama ini aku tidak mengidam yang aneh-aneh. Kalau memang seperti itu, pasti anak yang Tuhan berikan ini adalah anak yang spesial, tidak tergantikan dengan apapun.

Membayangkannya saja aku merasa bahagia. Bahagia menjadi anak yang spesial dan bahagia karena menjadi salah satu orang yang dipilih untuk menanggung segala tanggung jawab dalam mendidik anak ini dikemudian hari. Bukan anak teman kantorku, bukan anak tetanggaku, tetapi anak kandungku, anak yang akan segera lahir ke dunia ini.

Perasaan bahagia ini sama dengan perasaanku saat menonton 300 film komedi romantis dengan akhir yang bahagia disaat bersamaan. Sulit untuk membendungnya, sulit untuk mengungkapkannya dengan kata-kata. Perasaan ini adalah perasaan terbaik yang pernah kurasakan seumur hidupku. Dan kebahagianku bertambah ketika suamiku turut serta dalam kehamilanku. Tapi bukan berarti suamiku juga ikutan hamil seperti yang dilakukan Arnold S. dalam filmnya Junior. Suami yang tergantikan.

Kalau mau bicara lagi soal Jason, aku rasa satu buku diary seperti ini tidak akan pernah cukup. Karena apa yang selama ini dia lakukan, mulai kami berkenalan hingga saat ini, benar-benar diluar dugaanku ketika pertama kali berkenalan dengannya. Seperti yang ku katakan padamu sebelumnya, saat aku bertemu dengannya aku benar-benar terluka. Hatiku saat itu tertutup untuk cinta, tetapi tidak untuk memperluas jejaring. Waktu itu, menurut perkataan dia diawal pernikahan kami, dia jatuh cinta padaku pada pandangan pertama. Aku sangat tersanjung dengan perkataannya tersebut. Mengenang setiap pertemuan kami selama masa perkenalan dan pacaran, sampai pernikahan kami, membuatku makin mencintai dan menghormatinya. Dan aku sekali lagi berharap dialah satu-satunya yang akan menemaniku hingga aku tua nanti.

Bukanlah sesuatu yang muluk-muluk kan? Walau semua yang akan terjadi dikemudian hari tidak sesuai dengan apa yang aku bayangkan, tapi semuanya pasti akan menjadi momen yang tidak terlupakan oleh kami berdua. Dan mungkin bagi kami bertiga.

Di, kayaknya sampai sini saja dulu untuk hari ini. Aku mau mandi sore. Peluh dan keringat sedari tadi membuatku kegerahan. Ditambah aku harus memanaskan makanan untuk makan malam kami sebelum suamiku tercinta pulang dari kerjanya. Sampai jumpa Di.


**************************************************

17 Mei 1980
Di, aku sedih sekali hari ini. Aku bertengkar lagi dengan Jason, suamiku. Kali ini aku tidak tahu pasti apa penyebabnya, yang aku tahu semua ini salahku. Aku harus bagaimana Di? Tadi sehabis bertengkar, Jason mengurung diri dalam kamar kerjanya. Aku tidak berani mengganggunya. Jujur aku tadi agak takut melihat amarah yang menyala di mata Jason. Baru kali ini aku melihatnya marah sebesar itu. Apa aku selama ini yang terlalu manja dan terlalu cuek, sampai-sampai kemarahan dalam diri Jason terus menerus bertambah? Kalau memang seperti itu, betapa aku adalah seorang yang isteri yang sangat buruk. Aku tidak pernah menyadarinya. Selama ini aku mengira apa yang aku lakukan, bukanlah suatu masalah bagi kami berdua. Apa sikapnya tadi itu juga karena dia mengkuatirkan aku? Atau dimengkuatirkan anak yang berada dalam kandunganku? Kepada siapa aku harus mengadu semua ini?

Kamu tahukan aku ini anak yatim piatu. Dari kecil hingga sekarang aku tidak pernah tahu siapa orang tua kandungku. Dan kehidupan keras membuatku menjadi seperti sebelum aku mengandung. Hanya pekerjaan yang membuatku bertahan hidup. Dan sekarang, tentu saja Jason yang membuatku bertahan hidup. Ya, sekarang ada Jason dan anak yang akan lahir sebentar lagi. Entahlah Di, aku jadi bingung. Dan alasannya aku tidak tahu.

Ngomong-ngomong Di, tadi siang sahabatku Evi menghubungiku. Aku sangat terkejut saat mendengar suaranya diseberang. Evi adalah sahabatku sewaktu kami duduk dibangku SLTP, dan terakhir kali kami saling mengadakan kontak, saat aku sedang menyusun skripsiku. Kesibukan kerja yang memisahkan kami. Anaknya lumayan cerewet tapi baik hati. Salah satu perempuan keturunan China yang baik hati. Mengenang masa lalu memang menyenangkan. Apalagi mengingat gaya kekanak-kanakan kami waktu itu. Satu lagi, sekarang dia sudah menjabat sebagai manajer cabang tempatnya bekerja. Dan aku bangga dengan sahabatku itu. Selain dia ada seorang lagi sahabatku, yang juga sahabat Evi, yang sudah lama sekali tidak berjumpa dengan dirinya. Sungguh indah masa-masa itu. Dimana ada orang yang menyayangiku dan aku pun menyayangi mereka.

Untuk hari ini sepertinya cukup Di. Aku mengantuk sekali. Emosi ini sungguh memakan banyak energi. Bye..bye..Di.