BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS »

Thursday, November 5, 2009

Diary Ibuku (bag. V)

Tanpa kusadari, aku telah tertidur dengan pulas tadi. Mungkin karena kelelahan menangis. Memang betul yang mama katakan dalam diarynya ini, terlalu mengikuti emosi memakan banyak tenaga. Tetapi perasaan yang menumpuk dalam hati ini sudah tidak dapat tertampung lagi. Dan rasanya lega.

Matahari saat ini telah siap untuk beranjak ke negeri seberang yang menantinya. Satu hari catatan mama telah selesai aku baca. Jujur saja, sampai saat ini aku malu dengan segala kelakuanku saat muda dahulu. Aku tidak pernah membayangkan betapa mama bangga dengan semua yang aku lakukan, meski itu membuatnya kuatir. Entah bagaimana mama melakukannya. Selalu optimis dengan masa depanku disaat orang lain meragukannya. Apa yang membuat mama sekuat itu? Apakah pengalaman hidup sebelum berjumpa papa membuat mama menjadi kuat?

Dari dulu aku selalu mencoba mengerti apa yang terjadi dengan sekitarku, apa yang orang lain rasakan ketika mereka melarangku, menasihatiku dan ketika aku memilih untuk cuek dan melakukan segala sesuatunya sesuai dengan yang aku inginkan, tapi tetap aku tidak bisa mengerti. Aku sebenarnya cemburu dengan Jeremiah, kembaranku. Dia lebih peka dengan segala sesuatunya, sehingga orang lebih menyukainya dibandingkan dengan aku. Dan tentu saja ujung-ujungnya dan akhirnya semua orang, kecuali mama dan papa, mulai membanding-bandingkan kami berdua. Hatiku terasa sakit ketika mendengar semua itu. Aku dan Jeremiah berbeda meski kami dilahirkan sebagai kembar. Aku heran kenapa semua orang tidak mau pernah mengerti bahwa kami berdua memang berbeda.

Untung saja aku bukanlah Jewel yang lama. Jewel yang akan bertindak dengan penuh emosi ketika mendengar orang lain menjelek-jelekkan dirinya. Sekarang aku bisa lebih tenang. Kalau dahulu aku suka membanting pintu karena marah ketika orang membandingkan kami berdua, sekarang aku hanya menyerang kembali bahkan cuek dan menganggap lalu apa yang mereka katakan. Dan itu terjadi karena aku sudah bosan dan jenuh menanggapi setiap anggapan dengan penuh emosi. Meski sesak dalam dada yang harus aku tanggung. Tetapi aku tidak mau membuat malu almarhum papa lagi. Karena aku telah berjanji kepadanya untuk menjadi lebih dewasa dalam berpikir dan bertindak.

Terkadang aku kesulitan memenuhi janjiku kepada papa, karena aku masih sering bertindak tanpa berpikir terlebih dahulu. Aku jadi kasihan sama mereka yang menjadi korban pelampiasan amarahku. Terutama dia. Yang tetap setia mendampingiku kala suka dan duka. Meski ingin menghindarinya, tetapi aku rindu akan suaranya, akan senyumannya, akan kekonyolannya, akan sosoknya yang mengisi hari-hariku dengan kehangatannya. Entah apa yang sedang dilakukan Jonathan saat ini. Aku sangat merindukannya. Apa dia merindukanku juga di sana?

*************************

30 Juli 1999

Aku takut Di,
Aku takut kehilangan Jason, Di. Hari ini aku mendengar kabar yang hampir membuatku tidak mampu untuk berdiri dengan kedua kakiku. Di, Jason akan segera meninggalkanku dan aku tidak tahu apakah aku mampu untuk hidup dan tinggal di dunia ini tanpa kehadirannya. Tuhan, kenapa sampai ini terjadi atas Jason. Aku tidak mampu Di, membayangkan semuanya. Meski masih ada dua tahun tersisa, tapi rasa-rasanya tubuhku kehilangan sumber kekuatannya. Aku merasa begitu lelah dan lemah Di. Melebihi kelelahan yang aku rasakan ketika bekerja.

Aku tidak tahu bagaimana harus mengatakannya kepadamu. Aku tidak tahu harus bilang apa ke anak-anakku. Aku tidak ingin mereka kuatir dengan persoalan lain selain dari masalah dalam kuliah mereka. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi Di. Aku... benar-benar takut kehilangan Jason Di.

Segala hasratku, kekuatanku serasa hilang ditiup angin sepoi-sepoi. Aku tahu setiap orang pasti akan menghadapi kematian. Tetapi kenapa harus Jason, dan kenapa dengan penyakit yang seperti itu Di. Aku tidak dapat menyalahkan siapapun bahkan Tuhan sekalipun, karena......

Entahlah Di, aku hanya bisa berdoa dan berharap, Jason dapat menikmati sisa hidupnya dengan bahagia. Aku tidak mau dia merasakan kepedihan yang mendalam dan kesusahan karena harus meninggalkan kami. Aku...

Beberapa kata dalam diary ibuku kali ini terhapus karena titik air. Ini titik air biasa atau titik air mata? Entah kenapa aku dapat merasakan apa yang mama rasakan waktu itu. Kepedihan yang luarbiasa. Dan ini berarti kata-kata yang pudar itu diakibatkan oleh air mata mama.

Jujur saja, seumur hidupku aku jarang melihat mama menangis. Hanya pada saat opa dan oma meninggal, mama menitikkan air mata. Kalau bisa kusimpulkan mama menangis hanya pada saat dia sedih. Aku...entahlah. Apa yang terjadi pada saat kami tidak ada di rumah? Pertanyaan ini mulai muncul di kepalaku. Karena waktu itu tidak ada yang memberitahu kami mengenai apapun. Apa tante Ana tahu apa yang terjadi? Mengingat selama kepergian kami, tante Ana yang selalu bersama-sama mama dan papa. Mungkin lebih baik aku menghubunginya sekarang. Karena aku ragu apakah kematian papa lima tahun yang lalu murni karena ‘sudah waktunya’ untuk meninggal.

*************************

Aku sangat terkejut mendengar apa yang tante Ana ceritakan di telefon beberapa menit yang lalu. Aku tidak percaya, bagaimana mungkin mama dan papa tidak menceritakan hal sepenting ini kepada aku dan Jeremiah.

“Pasti ada alasannya sampai kalian tidak diberitahu selain karena orang tua kalian tidak ingin kalian kuatir. Dan yang tahu alasannya hanyalah almarhum orang tua kalian, yang saat ini tidak dapat menjawab langsung alasan mereka. Mungkin, lebih baik kamu terus membaca buku harian yang diwariskan oleh mama kamu. Siapa tahu mama kamu menuliskan alasannya. Maaf yah Jewel, tante tidak bisa menceritakan banyak kepadamu.”

Itulah yang dikatakan oleh tante Ana sewaktu aku meminta penjelasan mengenai apa yang terjadi. Yang terjadi sembilan tahun yang lalu, menurut tante Ana, papa tiba-tiba jatuh pingsan di kantor tempatnya bekerja. Dan hasil pemeriksaan para dokter adalah kanker otak dan waktu yang tersisa untuk papa hidup saat itu hanya dua tahun. Tapi entah bagaimana papa dapat bertahan hingga lima tahun yang lalu, saat aku dan Jeremiah berhasil menyelesaikan kuliah kami.

Marah, sedih, terharu, menyesal, perasaan itu bercampur aduk dalam hatiku saat ini. Aku masih tidak menyangka dan heran kenapa mama dan papa tega tidak memberitahukan kepada kami apa yang sebenarnya terjadi. Seandainya aku tahu lebih awal, pasti aku akan berhenti dari kuliahku dan kembali ke rumah untuk merawat papa. Tapi ini membuatku kembali berpikir, apakah semua ini sudah diperhitungkan oleh papa dan mama saat itu?

Aku harus menyelesaikan membaca diary mama saat ini. Siapa tahu aku bisa menemukan jawaban, dan mungkin saja dugaan tante Ana benar. Mama menulis alasan dari pertanyaan yang ada di kepalaku sebelum masa berliburku habis. Karena waktu berlalu dengan cepat ditempat ini. Dan tinggal seminggu waktu yang tersisa dari waktu yang ada. Semoga semuanya dapat terpecahkan.

*************************

26 Agustus 2003

Di, tiga tahun sudah semenjak Jason divonis mengidap penyakit kanker otak. Waktu berlalu dengan cepatnya di tempat ini. Sudah sebulan kedua anakku menyelesaikan kuliah mereka dan bekerja menurut keinginan mereka masing-masing. Dan aku senang akhirnya Jeremiah memilih untuk melanjutkan usaha yang sudah kurintis selama kurang lebih enam belas tahun. Meski aku ingin Jewel juga turut terlibat dalam usahaku, tetapi aku tidak bisa melarangnya untuk memilih sesuatu yang dia senangi.

Aku kuatir Di, apakah selama ini aku telah salah mengasuh Jewel. Apakah selama ini yang kuajarkan cukup baginya? Memang harus kuakui, perhatian yang kuberikan kepada anak-anakku tidak sebesar yang kuberikan kepada pekerjaanku. Kalau itu alasan Jewel menghindariku, aku merasa sangat bersalah Di. Aku telah menjadi contoh yang buruk baginya. Entah aku harus berbuat apa untuk memperbaikinya.

Tapi Di, semalam aku bermimpi yang aneh tapi menyedihkan. Aku bermimpi Jason menaiki sebuah kapal pesiar yang indah, yang selalu diimpikannya, dan tidak pernah kembali lagi ke sisiku. Aku takut Di. Aku takut semua mimpiku itu menjadi kenyataan. Ingin rasanya aku bercerita kepada anak-anakku perihal penyakit Jason. Tetapi Jason melarangku.

“Aku tidak ingin menjadi beban kalian,” itu katanya. Membuat hatiku hancur.

Di, aku kembali nanti lagi. Ada sesuatu yang terjadi dengan Jason. Bye...

*************************

11 Mei 2008

Di, sepertinya sebentar lagi kita akan berpisah. Aku sudah mencoba bertahan selama yang aku mampu. Penyakit yang aku derita ini biarlah itu menjadi tanggunganku seorang diri. Oleh karena itu anak-anakku tidak mengetahui kondisi kesehatanku yang sebenarnya. Aku tidak ingin membuat mereka kuatir.

Aku bahagia dengan keadaan anak-anakku saat ini. Jeremiah, saat ini dia adalah seorang ayah dari sepasang anak kembar yang lucu. Aku sudah punya cucu, Di. Tidak terasa aku sudah sedemikian tuanya. Usahaku berkembang dengan pesat di tangan Jeremy dan isterinya, Hannah, wanita cantik yang baik hati. Penyakitku seakan terlupakan dengan kehadiran Jeremy dan keluarga barunya. Sedangkan Jewel, kabar terakhir yang aku dengar dia sudah naik jabatan menjadi manajer di perusahaan periklanan tempat dia bekerja. Aku merindukan Jewel, Di. Aku ingin meminta maaf kepadanya. Hartaku yang berharga.

Tapi Di, hanya Jason yang paling kurindukan. Empat tahun lebih semenjak kepergiannya. Pasti, ya pasti aku akan berjumpa dengannya lagi di surga. Tidak Di. Bukannya aku pesimis dengan kondisi tubuhku. Tapi aku sudah siap jika seandainya Tuhan memanggilku untuk pulang ke sisi-Nya. Oleh karena itu Di, ini perjumpaan terakhir kita. Namun sebelumnya aku ingin meminta bantuan darimu. Aku ingin menulis sesuatu untuk dibaca oleh Jewel.

Anakku Jewel,
Mama tahu selama ini kau cukup terluka dengan segala tindakan mama. Mama tahu perhatian yang mama berikan kepadamu tidaklah mencukupi apa yang kau butuhkan. Karena itu mama ingin meminta maaf kepadamu bila mama tidak sempat mengucapkannya langsung kepadamu. Tapi, mama ingin kamu tahu, mama selalu mencintai dan menyayangimu. Mama selalu bangga dengan keberhasilanmu. Karena kau dan Jeremiah adalah harta mama yang paling berharga.

Maafkan mama Jewel, karena tidak bisa terus mendampingimu sampai kau menikah nanti. Mama tahu bahwa kamu sudah mempunyai pacar di sana, dan hubungan kalian sudah sampai ke tahap yang serius. Mama tahu semua itu dari Jeremy. Mama hanya ingin kau tahu, jika dia adalah orang yang mencintaimu dengan setulus hatinya dan membuatmu tidak dapat hidup tanpa kehadirannya. Maka janganlah ragu-ragu untuk menikahinya. Pasti dialah orang yang dikirim oleh Tuhan untuk mendampingimu selamanya. Mama terus mendoakan kalian tanpa henti. Dan mama yakin Tuhan akan memberikan kebahagian dan kehangatan yang sama yang telah Tuhan berikan kepada mama dan papa.

Yang terakhir Jewel, di dalam laci meja kerja mama, ada sebuah hadiah yang mama telah siapkan untukmu. Mungkin tidak terlalu berharga, tapi sebuah buku harian supaya ceritamu bisa kau tulis dan bisa kau berikan kepada anakmu. Mama harap kau mau menerimanya.

Mama mencintaimu Jewel... Mama mencintai kalian berdua...


*************************

Tanpa terasa air mataku mengalir tanpa terhenti. Kenapa mama tega tidak meminta maaf kepadaku langsung. Aku...aku menyesal. Selama ini aku salah menduga semua tindakan mama. Aku anak yang tidak berbakti. Aku....juga sayang mama.

Ketukan pintu membuatku harus menahan sebentar isak tangisku. Sebuah sosok yang kurindukan sedang berdiri didepanku dengan tatapan yang selalu membuatku luluh jika melihatnya. Seketika juga aku berhamburan memeluknya dengan erat. Air mataku kembali mengucur dengan derasnya. Aku tidak perduli apa yang dia pikirkan. Tapi saat ini aku membutuhkan pundaknya untuk mencurahkan semua yang kurasakan. Kepedihan yang tak terperikan.

“Menangislah sepuasmu, sayangku. Aku akan selalu berada di sisimu.”

*************************

Hampir setahun berlalu semenjak kematian mama. Selama itu banyak hal yang telah berubah dalam kehidupanku juga sifatku sedikit demi sedikit berubah oleh waktu dan cinta. Akhirnya aku bisa memaafkan mama dan diriku sendiri. Hari yang baru telah kujalani. Hatiku juga diperbaharui. Aku adalah Jewel yang baru. Seorang wanita yang penuh kasih sayang dan penuh kebahagiaan. Seorang calon ibu dari anak yang saat ini berada dalam kandunganku. Seorang kekasih, isteri dari orang yang kucintai. Dan saat ini aku akan melanjutkan kisahku yang belum lama ini kumulai dalam buku harian pemberian mama. Buku harian kepunyaanku...

*************************

15 April 2009

Dear Diary,
Hari ini anak dalam perutku gembira ketika mendengar musik yang biasa mama dengar dahulu. Kira-kira dia jadinya kayak siapa ya? Mirip aku atau Jonathan......

p.s. Inilah akhir dari sebuah awal yang baru....

Diary Ibuku (bag. IV)

24 Juli 1985

Halo Di,
Aku senang akhirnya aku dapat menemukanmu kembali. Semenjak aku sibuk mengurus kedua anak kembarku, kamu sengaja aku singkirkan. Aku tidak mau kamu rusak Di. Aku ingin kamu menjadi salah satu peninggalan berharga bagi anak perempuanku.

Aku lupa memberitahukan kepadamu nama kedua anakku. Yang pertama kali lahir, anakku laki-laki, jagoan kami, Jeremiah Edison Chandawinata. Dan yang kedua, anakku perempuan, permata kami, Jewel Elizabeth Chandawinata. Nama mereka berdua seperti nama orang asing ya? Nama mereka dipilih oleh Jason dan orang tuanya. Kami semua bahagia dan baik-baik saja Di. Bahkan hari ini aku dan Jason mau merayakan hari ulangtahun si kembar. Tapi perayaan ini sengaja kami rahasiakan dari mereka berdua, meski aku tahu tidak mudah merahasiakan sesuatu dari Jewel. Dia terlalu pintar untuk dikelabui. Dan kamu tahu Di, mereka adalah anak-anakku yang berharga di dunia ini. HARTA YANG TAK TERNILAI. Aku sangat bahagia dengan kehadiran mereka berdua, meski tidak mudah untuk mengasuh dan mendidik mereka. Tetapi puji Tuhan, kami bisa melewati lima tahun pertama. Satu hal tambahan lagi. Aku sudah BERHENTI BEKERJA. Ini adalah keputusanku sendiri, bukannya paksaan dari Jason atau dari siapapun. Aku ingin memberikan sebanyak-banyaknya apa yang kuketahui kepada anak-anakku sebelum terlambat.

Di, aku harus pergi dulu. Pestanya akan segera dimulai. Bye....

**************************************************

14 Juli 1987

Hai My Diary,
Sudah dua tahun kita tidak berjumpa. Keadaan aku dan keluargaku baik-baik saja. Bahkan sekarang Jeremiah dan Jewel sudah sekolah di sekolah dasar kelas 1. Sebenarnya ini hari pertama mereka bersekolah. Aku dan Jason sangat bahagia. Tanpa terasa mereka sudah harus masuk ke sekolah dasar. Waktu berlalu dengan cepat Di. Serasa baru kemarin aku melahirkan kedua anakku.

Meski agak sibuk karena harus mengurus mereka, tetapi aku sungguh bahagia, bahkan puas, melebihi kepuasan yang aku rasakan ketika menyelesaikan sebuah proyek sewaktu aku kerja kantoran dulu. Kalau dahulu setiap hari, sebelum pekerjaan itu selesai, adalah saat-saat yang membuat seseorang, atau mungkin beberapa, merasakan stres yang berkepanjangan. Dan hanya pada saat segala sesuatu yang telah dikerjakan sukses, itulah saat dimana kelegaan yang tidak bertahan lama itu bisa dirasakan. Tetapi sekarang, setiap mata-mata mungil itu tertutup dan tenggelam dalam mimpi, aku bisa merasakan kelegaan itu dan itu terjadi setiap hari. Sesuatu yang tidak dapat digantikan dengan apapun. Meski tidak selamanya mulus. Tapi aku puas dan bahagia. Dan ini membuat rasa syukurku kepada Allahku makin bertambah. Karena tanpa kekuatan dariNya, aku pasti tidak akan sanggup menghadapi semua masalah yang datang dalam keluarga kami.

Jangan kuatir Di, hubungan aku dan Jason baik-baik saja. Walau kadang kami berselisih pendapat, akan tetapi kami tetap saling mencintai. Aku masih belajar bagaimana menjadi seorang ibu dan isteri yang baik bagi anak-anak dan suamiku. Meski aku sudah banyak membaca buku tentang mengasuh anak dan yang lainnya, sampai-sampai aku tidak mengingat lagi apa-apa saja judul buku yang telah aku baca. Akan tetapi tetap, aku merasa semuanya itu belum cukup. Dan itu membuatku, mau tidak mau, harus ‘belajar’ setiap hari.

Oh ya, aku dan ibu Jovie, tetanggaku mau membuat sebuah usaha dibidang kuliner. Kebetulan kami berdua suka membuat berbagai macam kue. Butuh waktu setahun untuk mempertimbangkan tawaran ibu Jovie. Karena aku mencemaskan anak-anakku. Tetapi Jason-lah yang membuatku maju terus dan memutuskan untuk memulai usaha ini. Dan jujur saja aku gugup dan takut, kalau orang lain tidak menyukai kue buatan kami.

“Jangan kuatir sayang. Kue buatan kamu enak kok. Buktinya setiap kali acara keluarga kue kamu pasti habis dimakan oleh keponakan-keponakan kita. Kalau keluargaku saja menyukai kue buatan kamu, pasti orang lain juga akan menyukainya. Belum lagi kalau mereka sudah tahu siapa pembuatnya, pasti mereka akan jatuh hati kepadamu, tidak hanya kepada kue buatanmu,” jawab Jason ketika aku mengutarakan semua rasa yang aku rasakan pada suatu malam, seraya menggodaku.

Meski Jason berkata demikian, rasa gugup yang hinggap di hatiku tidak hilang begitu saja dengan seketika. Apalagi hari ini, hari dimana kami memulai usaha kami. Baru sejam yang lalu ibu Jovie membawa kue buatanku dan buatannya, tetapi serasa sudah sehari kue itu dijual di warung dekat rumah kami. Degup jantungku terus bertambah seiring berlalunya waktu. Waktu yang mengingatkanku untuk menjemput anak-anak di sekolah. Untung saja sekolah mereka tidak jauh dari rumah kami, jadi mudah bagiku untuk menjemput mereka.

Tapi jujur saja Di, aku penasaran dan gugup serta tidak sabar menunggu hasil penjualan kue kami. Apakah laku semuanya atau tidak? Apakah mereka menyukainya atau tidak? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang terus beredar di otak semenjak Ibu Jovie membawa kue-kue kami ke warung terdekat. Aku jadi gemas sendiri. Mungkin, lebih baik aku pergi ke sekolah anak-anakku. Siapa tahu Di, bertemu dengan orangtua murid lainnya dapat membantuku melupakan pertanyaan-pertanyaan yang membuatku gelisah setiap menit. Semoga saja.......

*************************************************

Aku tidak pernah menyangka, usaha yang selama ini mama jalankan, yang tentu saja diteruskan oleh kembaranku yang lebih duluan lahir, hanyalah usaha dengan modal coba-coba semata. Pasti dahulu ibu tidak pernah menyangka usahanya dan Tante Jovie akan sukses. Benar-benar diluar perkiraan.

Jika aku harus jujur, dan aku akan jujur kepada diriku sendiri, sifat mama yang pantang menyerah dan suka bekerja keras adalah sifat yang kukagumi dari beliau. Dan itu baru aku sadari sekarang. Apa dahulu aku bertengkar dengan mama hanya karena aku iri tidak mempunyai sifat seperti yang mama dan kembaranku miliki? Meski sering berbeda pendapat, tetapi mama selalu menjadi idola nomor tigaku. Tuhanku dan ayahku adalah dua idola teratasku. Bahkan teman-temanku, tidak sedikit dari mereka yang mengagumi sifat mama, sampai-sampai ada beberapa anak yang merasa iri kepadaku karena mempunyai mama seperti mamaku.

Beberapa lembar dari diary mama aku langkahi, hanya terdapat tulisan-tulisan yang tidak terselesaikan. Mungkin pada waktu mama sementara menulis isi hatinya, ada hal penting lainnya yang harus dilakukannya. Entah berapa halaman aku lewatkan, aku sudah tidak menghitungnya lagi. Aku teringat betapa sibuknya mama ketika harus mengurus masalah yang menyangkut usaha yang dibangunnya. Sedangkan aku, waktu itu merasa sangat cemburu dengan perhatian mama yang sangat besar terhadap usahanya. Aku selalu merasa diabaikan. Entahlah.

**************************************************

24 Juli 1997

Halo Diary-ku,
Terima kasih tetap setia mendengar segala isi hatiku, meski aku sering tidak mencurahkan semua yang ada kepadamu. Karena itu merupakan rahasia antara aku dan Tuhan. Tapi hari ini aku membagi sukacita yang kurasakan.

Genap sudah tujuh belas tahun usia kedua buah hatiku yang berharga. Aku dan Jason sangat bahagia, karena Tuhan sudah memberikan banyak berkat bagi kami sekeluarga, khususnya kepada kedua buah hatiku. Dan seperti biasa, tradisi yang telah ada semenjak kapan pastinya aku tidak tahu, kami mengadakan pesta ulangtahun yang meriah untuk kedua anakku. Puji Tuhan, kami dapat merayakan ulangtahun keduanya dengan meriah. Itu semua karena berkatNya dalam pekerjaan Jason dan usaha yang aku jalankan. Meski terkadang tubuh ini terasa lelah, tapi demi kebahagiaan anak-anakku, semuanya terasa bagaikan mesin pendorong yang memberikanku kekuatan ekstra untuk bekerja lebih keras lagi.

Tapi Di, terkadang aku kuatir, apakah yang aku lakukan selama ini baik bagi pertumbuhan mental anak-anakku? Karena aku merasa perhatian yang selama ini aku berikan hanyalah bersifat materi. Aku kesulitan Di dalam memperlihatkan rasa sayangku kepada anak-anakku, khususnya kepada Jewel yang akhir-akhir ini menjadi sangat pendiam. Mungkin bukan hanya akhir-akhir ini, kapan pastinya aku tidak tahu. Aku tidak menyangka akan menjadi seperti ini. Meski aku sudah mengetahui segala akibat dari keputusan yang aku ambil, tetapi aku tidak pernah membayangkan akan menjadi seperti ini. Walaupun aku harus berterimakasih kepada Tuhan, tidak hanya Jewel tetapi juga Jeremiah, kedua-duanya tidak terlibat dengan dunia narkotika yang marak akhir-akhir ini.

Tetap aku merasa ada sesuatu yang salah dengan apa yang aku lakukan Di. Aku merasa bersalah kepada anak-anakku. Dan aku telah banyak berdoa kepada Tuhan supaya aku dapat mengetahui apa yang salah denganku. Karena aku benar-benar merasa tersesat, semua yang aku ketahui sebelumnya mengenai mengasuh anak, susah untuk aku praktekkan.

“Kamu tidak perlu kuatir sayangku. Apa yang dialami Jewel saat ini, juga dialami juga anak remaja lainnya. Bukanlah suatu masalah yang besar. Jewel hanya sedang mencari jati dirinya. Saat ini kita hanya bisa membimbing dan berdoa baginya. Sudahlah jangan terlalu dipikirkan. Lebih baik kamu istirahat yang banyak, karena aku lihat kamu makin kurus akhir-akhir ini,” jawab Jason ketika aku berdiskusi dengannya mengenai anak-anak kami. Tetapi jawabannya tidak membuatku merasa puas seperti sebelum-sebelumnya.

Entahlah Di, aku bingung. Bahkan aku takut untuk membayangkan apa yang akan terjadi atas anak-anakku di masa-masa yang akan datang. Aku takut apa yang aku takutkan dan bayangkan beberapa minggu terakhir ini akan terjadi. Semoga tidak Di. Benar Di, aku harus bersikap dan berpikiran positif terhadap anak-anakku dan masa depan mereka.

Aku harus yakin, masa depan mereka secerah masa depanku.

********************************************

25 Juli 1997

Hai Di,
Puji Tuhan, pesta ulangtahun anak kembarku kemarin berlangsung dengan sukses. Semua tema-teman sekelas dan teman-teman sekitar rumah dan beberapa undangan lainnya datang, dan semuanya bergembira. Aku bahagia karena anak-anakku bahagia, walau ulangtahun kali ini oma dan opa mereka tidak bisa bersama-sama kami merayakan ulangtahun mereka tahun ini. Kedua orangtua Jason telah meninggal Di setahun yang lalu. Tidak, mereka tidak meninggal karena sakit, tetapi karena sudah waktunya. Meninggalnya pun hampir bersamaan. Dan jujur saja aku merasa sangat kehilangan mereka. Karena kembali aku harus menjadi anak yatim-piatu.

Aku sedih Di, karena tidak bisa berbagi kebahagian yang aku rasakan dengan mereka. Terlebih kebahagian yang kurasakan kemarin, ketika merayakan ulangtahun kedua buah hati yang ketujuh belas. Hadiah yang kuberikan untuk Jeremiah dan Jewel? Untuk Jeremiah, aku memberikan sepeda motor. Meski tidak sesuai dengan yang dia inginkan, tipe dan jenis motornya, tetapi Jeremiah senang dengan pemberian kami. Dan untuk Jewel, perhiasanku yang berharga, aku dan Jason memutuskan untuk memberikannya satu set perhiasan dari emas. Meski harganya tidak mahal, tapi kami ingin Jewel memilikinya. Kami ingin Jewel tahu, bahwa dia lebih berharga dari perhiasan yang kami berikan kepadanya.

Di, aku mau tidur dulu. Mataku terasa berat sekali. Nanti kita lanjutkan lagi. Bye...

*************************

Jujur saja, aku terkejut ketika mengetahui tujuan perhiasan, yang selama ini aku benci, diberikan kepadaku. Aku tidak pernah menyangkanya. Benar-benar melebihi bahkan berbeda dengan apa yang selama ini aku pikirkan dan bayangkan. Selama ini aku merasa begitu tidak berharga dimata kedua orangtuaku sehingga mereka memberikan perhiasan yang jelek pada saat ulangtahun ketujuh belasku. Aku merasa begitu bersalah, karena selama ini, sampai kedua orangtuaku dipanggil olehNya, aku tidak pernah mencoba menjadi anak yang berbakti.

Hatiku hancur mengetahui kenyataan yang ada. Semua pertanyaan yang ada dikepalaku seakan hilang lenyap dibawa angin penyesalan yang terlambat datangnya. Entah mengapa aku bertindak begitu bodohnya. Selama ini Jeremiah sudah menasihatiku, nasihat yang tidak perah aku ikuti dan lakukan. Aku merasa begitu berdosa. Bagaimana mungkin aku dapat menjadi anak yang tidak berbakti seperti sekarang ini.

Percuma aku menangis sekarang. Tapi, rasa sakit dalam diriku tidak dapat kubendung lagi. Aku merasa begitu kehilangan diriku dan orangtuaku. Tuhan kenapa kau biarkan aku berubah menjadi seperti ini. Aku sangat berdosa. Sakit. Hatiku terasa sakit sekali. Aku...

*************************

27 Juli 1998

Hari ini aku gembira sekali Di, karena hari ini cabang tokoku yang kelima resmi dibuka. Sekedar informasi untukmu – aku lupa memberitahukan sebelumnya kepadamu – usaha yang sebelumnya aku buka bersama ibu Jovie, resmi menjadi milikku. Ibu Jovie sudah menjual ‘saham’nya kepadaku. Dan sudah lima tahun aku menjalankan usahaku seorang diri. Karyawanku juga bertambah banyak. Aku senang dapat membantu mereka yang membutuhkan pekerjaan, meski pada mulanya begitu sulit mempekerjakan mereka yang tidak mempunyai keahlian membuat kue dan yang lainnya. Tapi puji Tuhan, sejauh ini mereka semua mau berusaha dan belajar. Aku sungguh bersyukur kepada Tuhan karena telah mengirimkan orang-orang yang mau maju dan suka bekerja keras, sehingga usahaku maju dan sukses seperti sekarang ini. Aku berharap hal yang sama juga diberikan kepada anak-anakku dalam pekerjaan mereka nantinya di masa yang akan datang.

Bicara soal anak-anakku, sekarang mereka sudah duduk di kelas tiga SMA. Jewel mengambil jurusan IPA, sedangkan Jeremiah mengambil jurusan IPS. Itu sudah menjadi pilihan mereka. Aku dan Jason tidak pernah memaksa anak-anak kami mengikuti keinginan kami. Kami ingin mereka belajar mengambil keputusan sendiri. Aku dan Jason telah sepakat, peran kami hanyalah sebagai penasihat bagi anak-anak kami. Mengingat sekarang ini mereka cukup dewasa mengambil keputusan sendiri dengan segala resiko yang ada. Dan alasan mereka memilih jurusan itu, hanya mereka yang tahu. Anak jaman sekarang pandai sekali menyimpan rahasia, dan agak keras kepala menurutku. Memang berbeda sekali dengan anak muda jaman-jamanku dahulu. Tapi walau bagaimanapun, aku dan Jason akan mendukung mereka dengan kasih sayang

Itu kabar terbaru anak-anakku. Mengenai Jason. Aku dan dia baik-baik saja, malahan kami berdua makin mesra saja. Pertengkaran yang dulunya hampir tiap hari terjadi, berkurang menjadi hampir tidak pernah. Jason bahkan telah diangkat menjadi wakil direktur di perusahaan tempat dia bekerja dari dahulu. Aku sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan, karena Dia memberkati keluarga kami dalam segala hal. Sudah mulai bermunculan uban di kepala Jason, tapi itu membuatnya tambah kelihatan ganteng saja. Dan aku tambah mengerti dan mencintai segala sesuatu yang ada pada Jason.

Oh iya, tadi aku berjumpa dengan mantan bosku. Tadinya aku kira dia bakalan marah ataupun menertawaiku. Tapi sungguh tidak terduga, dia justru merasa bangga dengan segala usahaku. Ternyata, selama ini Di, dia terus mengikuti perkembangan usahaku, bahkan menurut dia, keluarganya juga menyukai semua kue yang dijual di tokoku. Aku bahagia dan senang dapat membahagiakan dan menyenangkan orang lain. Walaupun tidak semuanya.

Di, aku mau istirahat dulu yah. Soalnya besok pagi aku harus bangun pagi-pagi untuk menyiapkan kue-kue yang akan aku jual di tokoku. Nanti kita lanjutkan lagi ya?! Good night. Mimpi yang indah.....