19 Mei 1980
Hai Di...
Aku tidak harus memulai darimana untuk menceritakan apa yang terjadi hari ini. Oke...akan aku coba. Tunggu sebentar ya, aku mau mempersiapkan diriku dulu. Baik aku sudah siap.
Hari ini adalah kali pertama aku keluar dari rumah bersama-sama suamiku. Kami pergi ke sebuah pusat belanja yang cukup terkenal, karena barang-barang yang dijual disana cukup lengkap dan harganya relatif lebih murah dibandingkan di tempat-tempat belanja lainnya. Apa karena baru buka sampai-sampai harganya murah? Ya, jalan-jalan sambil melihat-lihat siapa tahu aku bisa menemukan pakaian yang cocok untuk si jabang bayi. Tapi bukan itu yang ingin kuceritakan kepadamu. Ini betul-betul diluar dugaanku. Aku tidak pernah sekalipun membayangkannya.
Tadi aku bertemu dengan dia, Ferry, orang yang memperkenalkan aku dengan yang namanya cinta, dan juga yang memperkenalkan aku dengan rasa sakit yang luar biasa akibat putus cinta. Cinta pertama? Entahlah Di, sampai sekarang aku belum bisa menemukan definisi ‘cinta pertama’ yang tepat. Dan sepertinya bukan aku saja yang belum menemukan ramuan yang tepat untuk menyusun definisi ‘cinta pertama’ itu.
Sempat terbesit rasa sakit yang aku rasakan yang diakibatkan oleh dirinya. Dan yang membuat rasa sakit itu bertambah sewaktu dia menyapaku dengan ekspresi seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Berat Di, berat sekali untuk memaafkan seseorang yang sudah menyakiti hati ini disaat diri ini tidak pernah menyakiti orang itu. Meski sekembali di rumah, aku membuka kembali Alkitab yang membicarkan perihal memaafkan. Akan tetapi, meski aku mengerti dan ada keyakinan aku bisa melakukannya, untuk prakteknya sungguh sulit Di.
Dan soal Jason, dia tahu semua perbuatan yang dilakukan oleh Ferry. Tadi aku bisa merasakan amarah yang ditahan olehnya. Itu membuatku makin mencintainya. Sekarang aku tidak akan dibutakan lagi oleh tampang dan rayunya. Karena aku sudah mempunyai Jason dan Tuhan disampingku, dalam setiap langkahku.
Jadi ingat sewaktu Jason melamarku, saat kami sedang merayakan hari jadian yang memasuki bulan ketiga. Keraguan sempat memenuhi hatiku. Waktu itu aku masih trauma. Kalau mau dihitung-hitung, Jason sudah bersamaku kurang lebih selama enam tahun, termasuk pernikahan. Bisa kamu bayangkan Di kesabaran yang dia miliki, menungguku pulih dari lukaku. Dua tahun lebih Di. Dan tidak pernah sekalipun dia mengeluh. Kecuali bulan lalu dan beberapa hari yang lalu. Kejadian yang ingin aku lupakan. Aku bersyukur kepada Tuhan karena telah mengirim Jason disaat aku sedih, dan menjadikannya pendamping hidup yang sempurna.
Kembali ke pertemuan kami dengan Ferry. Aku mengira dia telah menikahi wanita yang membuatnya berpaling dari diriku, tapi ternyata Di Ferry belum menikah-menikah hingga sekarang. Sungguh suatu kejutan apalagi seingatku dulu, aku sempat mendengar kabar bahwa dia akan menikahi wanita itu. Ternyata tidak. Entah apa alasannya aku tidak mau menduga-duga lebih lanjut. Bisa-bisa aku berbuat sesuatu yang seharusnya tidak aku lakukan, bahagia diatas penderitaan orang lain. Untungnya tadi kami tidak berbincang terlalu lama. Soalnya tanganku sudah mulai kesakitan karena digenggam sangat keras oleh Jason. Bisa dibayangkan bagaimana geramnya dia melihat muka Ferry.
Jadi kesimpulannya, hari ini aku mempelajari satu hal. Aku masih perlu belajar untuk melakukan pelajaran memaafkan kesalahan orang lain. Tapi disisi lain Di, aku sangat bahagia. Dan aku mencintai suamiku. Itulah fakta yang ada.
Terima kasih Di sudah mendengarkan ceritaku. Sampai jumpa lagi nanti.
*************************
25 Mei 1980
Dear Diary,
Hari ini aku merasa bahagia sekali. Akhirnya setelah sebulan lebih dipingit oleh suamiku, aku bisa pergi ke gereja. Hari ini sangat aku nantikan. Dimana aku bisa mengangkat rasa syukurku kepada Tuhan yang telah menyempurnakan hidupku sejauh ini. Meski tadi aku sempat mengantuk juga karena kurang tidur semalam. Rasa gugup yang melandaku semalam membuatku terjaga lebih lama dari biasanya. Berjumpa dengan orang lain membuatku merasa... entahlah mungkin lebih hidup. Mungkin karena sebulan ini orang yang ketemui di rumah hanyalah Jason, suamiku dan pembantu kami yang bernama Jovie. Melihat berbagai mimik merupakan suatu hiburan tersendiri bagiku.
Kemarin aku dan Jason pergi ke dokter kandunganku untuk memeriksa kembali kondisi janin calon bayi kami, kebetulan dia tidak kerja hari ini. Dan hasilnya sungguh menggembirakan. Calon bayi kami sehat, lebih sehat dari kondisinya empat bulan yang lalu. Berat badanku juga bertambah, yang mana menurut dokter itu normal-normal saja. Aku tidak perduli kalau badanku naik atau tidak, yang penting anak dalam kandunganku bisa mendapatkan apa yang dia butuhkan. Yang pasti berat badanku masih bisa diturunkan setelah aku memenuhi kebutuhan ASI-nya.
Aku mencoba menahan diriku membayangkan rupa anak kami nantinya. Apakah mukanya akan sama seperti mukaku atau muka Jason? Pertanyaan yang sama yang aku tanyakan sebulan lalu. Tetapi rasa penasaran yang ada dalam hati dan pikiranku terus meluap seiring kebahagian yang aku rasakan dari hari ke hari, selama aku menghabiskan waktuku bersama anak dalam kandunganku.
Tapi Di, aku dan suamiku belum menyiapkan satupun nama untuk kami nantinya. Menurutmu kira-kira nama apa yang cocok untuk anak kami nanti? Ini cukup penting bagiku Di. Biar bagaimana pun aku tidak ingin memberi nama yang bisa dijadikan bahan olokan temannya. Mungkin nanti aku tanya langsung saja sama dia ya? Sama calon bayiku tentu saja Di. Kata orang biar masih dalam kandungan, mereka sudah bisa mengerti apa yang kita ucapkan atau katakan kepada mereka. Siapa tahu ada nama yang disukainya.
Kalau kamu tanyakan kenapa aku ingin melakukan seperti itu Di, jawabannya sederhana saja : Aku ingin anakku sedari kecil tahu apa yang dia inginkan. Oke...tidak sepenuhnya. Tentu saja dia bisa memutuskan setelah mendengar pendapat, argumen dan pemikiran dari aku, ibunya dan Jason, ayahnya. Tapi aku yakin anak dalam kandunganku ini akan menjadi anak yang manis, baik hati dan dengar-dengaran sama orang tuanya. Setidaknya itu yang aku pinta kepada Tuhan dalam setiap doa yang ku panjatkan kepada-Nya.
Ada kejadian yang cukup lucu tadi terjadi ketika kami berada di gereja. Ketika pendeta kami mulai berkhotbah, anak dalam kandunganku pun ikut bereaksi. Dan itu, entah kenapa, membuatku merasa geli dan ingin tertawa terbahak-bahak. Tetapi tentu saja aku tahan, dan tebak siapa yang menjadi sasaran pelampiasanku. Benar, Jason yang menjadi korban pertama kegemasan yang aku rasakan. Dan hampir saja seorang bapak yang cukup tua menjadi korban keduaku jika saja Jason tidak menahanku dan mengorbankan tangan dan lengannya menjadi sasaran pelampiasan rasa geli yang tak tertahankan waktu itu. Dan bisa tebak apa yang terjadi seusai ibadah kami. Jason meluncurkan berbagai pertanyaan atas tindakan yang aku lakukan tadi saat beribadah. Akan tetapi diri ini hanya bisa memberikan senyuman sebagai jawaban atas segala pertanyaannya. Biarlah apa yang terjadi tadi di gereja hanya aku, anakku, kamu Di dan Tuhan saja yang tahu.
Aku tidak bisa membayangkan apa yang dipikirkan oleh Jason setelah, melihat dan bukannya mendengar, jawabanku atas pertanyaannya. Membuatku serasa kembali ke masa mudaku dulu. Mudah-mudahan Jason tidak tersinggung atas jawaban yang kuberikan kepadanya.
Ada satu hal yang hampir aku lupa ceritakan kepadamu. Besok mamanya Jason, ibu mertuaku, akan datang ke rumah kami. Katanya sih mau menemani aku sampai aku melahirkan nanti. Kuatir kalau ada apa-apa dengan aku dan kandunganku. Padahal waktu aku hampir keguguran tidak pernah sekalipun dia menanyakan keadaanku. Dan sudah pasti bukan kuatir kepadaku adalah alasannya datang kemari.
Baiklah, aku rasa sudah cukup Di membicarakan mertuaku. Daripada aku harus menambah dosaku, karena membicarakan mertuaku, ibu Jason, sainganku dalam merebut perhatian Jason. Ini satu hal yang aku belum ceritakan kepadamu Di. Dan kita lihat saja nanti. Semoga aku bisa menahan diriku nanti.
**************************************************
01 Juni 1980
Dear Diary,
Maafkan aku baru mengisimu lagi. Akhir-akhir ini aku cukup sibuk. Cukup disibukkan dengan semua kegiatan yang dirancang oleh mertuaku. Ternyata Di, tidak seburuk yang aku bayangkan sebelumnya. Dan ini seperti jawaban atas doaku setiap hari. Mau tahu isi doaku apa Di? Aku memohon kepada Tuhan supaya selama mertuaku berada di sini, di rumah kami, aku dan dirinya dapat akur satu sama lainnya. Dan sungguh suatu keajaiban, aku bisa tahan menghadapi mertuaku, juga sebaliknya mertuaku bisa tahan dengan semua sikap manjaku yang muncul entah sejak kapan.
Dari dulu aku tidak tahu alasan pasti kenapa beliau begitu membenciku pada awal masa pacaran dan pernikahan kami. Aku enggan menanyakan alasan sebenarnya. Mungkin aku takut mengetahui alasan mertuaku membenciku. Tapi untuk saat ini aku senang hubunganku dengan mertuaku. Dan setidaknya Jason tidak harus memusingkan diri sendiri, karena dua wanita yang dicintainya bertengkar karena hal yang sepele. Aku rasa sudah cukup rasa lelah yang dia rasakan karena pekerjaannya.
Biar aku beritahu sesuatu kepadamu Di, suamiku adalah seorang pekerja keras yang mencurahkan segenap perhatiannya ketika dia sedang bekerja. Aku pernah menanyakan hal tersebut, mengapa dia bekerja begitu kerasnya. Dan kamu tahu apa jawabannya,
“Sederhana saja sayangku. Aku begitu menyenangi pekerjaan ini. Sudah menjadi impianku bekerja di bidang ini. Hasrat yang ku rasakan begitu besar, hingga aku tidak pernah ingin mengeluh ketika ada sesuatu hal yang tidak sesuai harapanku. Tetapi tentu saja pekerjaanku tidak sedikit pun menyaingi dirimu”
Entahlah Di, perkataan menggugah perasaanku waktu itu dan saat ini. Rasa cintanya dan eksistensi yang dia punya membuatku berpikir untuk melepaskan pekerjaanku untuk menjadi isteri yang baik baginya. Tapi apa cukup dengan menjadi baik saja? Bagaimana menurutmu Di?
Di, kayaknya sampai di sini saja perbincangan kita. Aku harus tidur siang ini, berdasarkan jadwal kegiatan yang disusun oleh mertuaku. Daripada harus ribut dengan mertuaku, jadi lebih baik aku turuti setiap kemauannya.
**************************************************
15 Juni 1980
Di, apa kabar?
Sejauh ini aku baik-baik saja, jika itu yang ingin kau tanyakan mengenai kabarku. Aku dan mertuaku sejauh ini baik-baik saja, setidaknya sampai beberapa jam yang lalu ketika aku lupa meminum susu untuk ibu hamil yang sama sekali tidak aku sukai. Dan entah bagaimana, mertuaku tahu kalau aku tidak meminum susu yang dibeli oleh suamiku, anak kesayangannya.
Jadi ingat ketika pertama kali aku harus menghadapi ketajaman lidah mertuaku. Waktu itu untuk pertama kalinya aku diperkenalkan kepada seluruh keluarga Jason. Seluruh keluarga itu termasuk saudara oma Jason, om-om dan tante-tante Jason, sepupu Jason yang entah berapa jumlahnya dan keponakan Jason yang masih kecil-kecil. Keluarga besar yang tidak pernah aku punyai. Pedasnya kata-kata mertuaku pertama kali aku rasakan ketika aku membantunya di dapur. Dapur yang menjadi tempat berkumpulnya para wanita mempersiapkan makanan dan mengatur sisanya untuk dibawa pulang ke rumah masing-masing. Asal kamu tahu aja Di, kondisi dapur saat itu bagaikan film-film yang sering aku tonton. Sebuah keluarga besar berkumpul ketika salah seorang dari mereka, tentu saja yang paling disayangi oleh semua, hendak memperkenalkan calon pendampingnya. Bagi setiap calon isteri itu adalah tahap penilaian dari pihak keluarga. Suka atau tidak suka, harus aku akui, aku dan para isteri lainnya tidak hanya menikahi suami kami semata, akan tetapi kami semua juga menikahi keluarga kami, demikian juga sebaliknya. Aku berharap anakku nanti dapat melewati ‘ujian’ itu dengan mulus.
Kembali ke pertengkaran antara aku dan mertuaku. Sehabis dimarahi ibu mertuaku habis-habisan, - tetapi tidak seperti gambaran ibu mertua jahat yang digambarkan dalam film-film lokal yang banyak aku tonton -, aku mencoba secepat mungkin untuk berbaikan dengannya. Aku tidak bisa membencinya Di. Bisa-bisa anakku nanti mirip mertuaku, omanya, seorang wanita yang jika dilihat sepintas seperti seorang wanita galak, yang kegemarannya marah sepanjang hari. Lebih baik aku membenci Audrey Hepburn yang berakting dengan sangat mengagumkan. Aku suka melihatnya saat dia memerankan setiap peran yang ada. Gadis ceria, periang, fashionable, tetapi pandai dan mandiri di saat yang bersamaan. Dan itulah anakku nantinya ketika dia beranjak dewasa, itu kalau anak yang lahir dari rahim ini adalah perempuan. Kalau laki-laki, dia pasti akan mirip dengan Jason. Pria yang takut akan Tuhan, penyayang, baik hati, sabar, bijaksana, penuh perhatian, walau terkadang dia terkadang melakukan suatu tindakan yang konyol di depan umum, seorang pria idaman setiap wanita. Plus pandai memasak seperti mama, opa dan omanya. Ini rahasia antara kita berdua saja Di, sebenarnya itu tipe pria idamanku. Dan sekarang aku telah mendapatkannya. Jason Chandawinata, pria idaman yang telah kudapatkan, salah satu kiriman spesial dari Tuhan untukku.
Di, sepertinya aku harus mengakhiri pembicaraan kita. Sejam lagi Jason akan pulang rumah. Aku mau menyiapkan makan malam kami dulu. Bye...bye...
Friday, September 18, 2009
Diary Ibuku (bag. II)
Posted by Jennifer at 12:51 AM
Labels: continue story, Short story
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment