BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS »

Sunday, July 12, 2009

Pertemuan (bag. 3)

... Dan tiba-tiba, dengan lembut Lenny menggenggam tanganku.....

"Tidak apa-apa. Aku mengerti perasaanmu. Kalau kamu belum siap menceritakan semuanya, lebih baik kita lanjutkan nanti saja," katanya sambil tetap menggenggam lembut tanganku. "Jangan kuatir, apa yang kita bicarakan hari ini aman bersamaku. Nah, sekarang lebih baik kita mengganti topik pembicaraan kita. Bagaimana dengan kabar....." sambung Lenny.

"Maafkan aku telah membuatmu merasa tidak nyaman dengan apa yang baru saja aku lakukan," ujarku sebelum Lenny menyelesaikan kalimatnya. Dan setelah itu kami berdua terdiam dalam keheningan yang dilatari lagu yang entah siapa penyanyinya dan apa judul lagunya. Kembali kuteguk sisa minuman yang ada dalam gelasku.

"Lagunya pas dengan perasaan dan nasibku saat ini. Menyedihkan," kataku memecah keheningan yang ada.

Sembari tersenyum Lenny berkata, "Setiap manusia mempunyai masa 'naik' dan 'turun'-nya. Karena itulah yang membuat hidup ini menjadi lebih berarti. Dan kamu tidak bisa terus-menerus diam di titik yang sama ketika kamu jatuh. Aku rasa, meski kita baru berkenalan beberapa jam, kamu bukan tipe wanita yang mudah menyerah." Lenny berhenti sejenak untuk menegak minuman yang ada didepannya. "Percayalah tidak hanya dirimu seorang yang mengalami hal yang sama. Meski apa yang kamu alami tidak seburuk yang dialami oleh wanita lain. Setiap orang mempunyai kesusahannya sendiri. Tapi hanya mereka yang berani melupakan dan memaafkan kesalahan orang lain, yang dapat sukses dan bahagia dalam hidupnya."

Aku termenung sesaat, memikirkan perkataan Lenny. Dan menurutku ada benarnya juga. Selama ini, meski sukses dalam hal pekerjaan, jujur saja, aku tidak merasa bahagia.

"Mungkin aku perlu mengambil liburan," kataku.

"Bisa saja. Anggap ini sebuah langkah awal. Siapa tahu saja ketika kamu kembali memasuki dunia pekerjaan, kamu bisa memaafkan dia yang telah menghambat dan mengusik pekerjaanmu," sahutnya dengan antusias.

Tittit...tittit...tittit...

"Permisi dulu ya," sahut Lenny setelah telefon genggamnya berdering.

Dan kembali sebuah lagu mengalun dengan indahnya. Seakan mendukung keputusan yang kuambil beberapa saat yang lalu.

"Maaf telah membuatmu menunggu. Sepertinya aku harus pergi sekarang. Ternyata aku masih ada janji di tempat lain," katanya sekembali dari luar tempat ini.

"Tidak apa-apa. Kebetulan juga aku sudah ingin pulang ke rumah. Sudah larut malam dan besok aku harus masuk kantor pagi-pagi untuk menyelesaikan pekerjaan yang ada, supaya aku bisa cepat-cepat pergi liburan," ujarku dengan penuh keyakinan dan semangat yang baru.

"Begitu lebih baik. Sepertinya kamu lebih baik senyum, mukamu kelihatan lebih cantik jadinya," ujarnya sambil tersenyum. "Biar aku yang bayar semuanya. Jangan lupa sesi kita hari Rabu mendatang. Dan aku rasa kali ini lebih baik kita ketemu di tempat praktekku. Oke?!"

"Aku rasa juga begitu. Terima kasih dr. Lenny buat waktunya. Sampai jumpa rabu mendatang," sahutku kepada Lenny. Bukan, dr. Lenny, psikiaterku selama tiga bulan ini.

Dan akupun beranjak dari tempat itu untuk kembali kedalam kehangatan yang telah menantiku di rumah. Di mana suami dan anak-anakku tercinta sedang menunggu dengan cinta kasih mereka. (Tamat)