BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS »

Friday, September 18, 2009

Diary Ibuku (bag. III)

Tak terasa hari sudah semakin larut. Aku begitu hanyut dalam setiap kata yang aku baca dalam diary ibuku, setengah bukupun belum aku selesaikan. Aku bisa membayangkan apa saja yang ibu lakukan selama masa mudanya, bagaimana perasaannya. Apa saja yang diingininya dengan penuh hasrat. Hanya saja itu membuatku heran kenapa aku tidak seperti mamaku. Padahal hampir setiap orang yang aku tanyakan pasti akan menjawab anak pertama perempuan itu kalau dewasa peringai seperti ibunya. Tapi aku beda dengan mamaku. Bagaikan air dan api, itulah kami berdua. Mamaku airnya dan tentu saja aku apinya.

Kepalaku terasa pening setiap kali memikirkan hal itu. Begitu banyak prasangka-prasangka buruk setiap kali aku memikirkan hal ini. Bertahun-tahun aku mencoba mengenyahkan segala prasangka buruk yang timbul ketika aku mulai menyadari perbedaan yang begitu besar antara aku dan mamaku. Dan mengenai papaku, beliau adalah orang yang tenang juga sama seperti mama. Hal ini makin menguatkan segala prasangka buruk yang baru berupa benih itu beberapa tahun yang lalu. Sungguh, aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk melupakannya. Tetapi, aku tidak bisa.

Sekarang, aku butuh istirahat, sebelum kepala ini pecah. Mungkin besok aku akan menemukan jawaban dari pertanyaanku beberapa tahun ini dalam diary mama. Semoga saja seperti itu.


****************************************


01 Juli 1980

Diary-ku, aku ingin curhat mengenai sesuatu kepadamu.
Hari ini aku bertengkar besar dengan ibu mertuaku. Dan ini bukan karena kesalahanku semata, tapi juga kesalahan ibu mertuaku. Sesak dada ini Di. Aku sudah mencoba untuk bertahan sebisa mungkin untuk tidak membencinya selama kehamilan. Akan tetapi kesabaranku seakan-akan sudah mencapai batas akhirnya. Aku tidak pernah menyangka akan terasa sakit seperti ini. Selama ini jika ada yang menyakiti aku hanya cuek saja. Ibu mertuaku adalah orang ke dua yang... entahlah Di bagaimana kata-kata dapat menggambarkan sakit yang aku rasakan. Apa karena selama ini aku tidak pernah dimarahi dan marah terhadap seorang yang bernama ‘ibu’? Inikah rasanya mempunyai seorang ibu? Apakah mungkin ini yang terjadi dalam hubungan ibu dan anak perempuannya? Apakah ini juga akan terjadi dengan anak perempuanku?

Entahlah Di, hanya Tuhan yang tahu.

Maafkan aku Di, aku tidak bisa bercerita kepadamu hari ini. Air mata ini tidak berhenti mengalir. Pikiranku juga sangat kacau. Mudah-mudahan besok semuanya baik-baik saja Di.


****************************************


03 Juli 1980

Hai Di,
Maafkan aku, karena tidak mengisimu kemarin. Kemarin aku benar-benar tidak bergairah sama sekali untuk melakukan segala sesuatu. Bahkan, ini rahasia antara kita berdua, aku kemarin tidak mandi seharian. Yang ada aku hanya mencuci muka dan gigiku. Seluruh kekuatan serta sukacitaku seakan habis, hilang begitu saja. Kalau mau dipikir-pikir, sehabis aku bertengkar dengan mertuaku, aku tidak bersemangat melakukan hal-hal yang biasanya kulakukan.

Tapi itu kemarin. Sekarang aku kembali bersemangat, karena pagi ini akhirnya ibu bicara sama aku. Dan akhirnya, kami saling memaafkan dan saling mengakui kesalahan masing-masing. Entah apa yang dibicarakan Jason dengan ibunya itu kemarin malam. Tapi aku tidak bisa menutupi rasa bahagiaku ketika mertuaku berbicara denganku. Perasaan lega muncul dari hatiku. Bahkan sukacita dan semangat yang tadinya menghilang secara tiba-tiba, kembali juga secara tiba-tiba. Membuat aku optimis akan hari ini. Semuanya akan baik-baik saja, itu yang terlintas di kepalaku sehabis aku bincang-bincang dengan mertuaku sebelum akhirnya aku masuk ke dalam dapur.

Tadi juga aku sempat bercerita kepada anak dalam kandunganku. Aku ajarkan kepadanya bahwa membenci itu tidak ada gunanya. Dan betapa memaafkan seseorang itu sangat melegakan. Aku berharap anakku nantinya dapat menjadi anak yang dapat memaafkan orang lain dan dirinya sendiri. Aku sengaja menuliskan ini Di, supaya nanti anakku dapat belajar akan hal memaafkan ini, jika saja aku tidak sempat mengajarkan pelajaran berharga ini. Siapa yang bisa tahu akan apa yang terjadi di masa yang akan datang. Mungkin nanti aku tidak mempunyai waktu buat anak-anakku, karena pekerjaan atau mengurus keperluan keluarga kami mungkin? Buat jaga-jaga saja Di.

Hari ini aku dan mertuaku memasak sesuatu yang istimewa untuk Jason. Makanan kesukaannya dari dahulu, Makaroni panggang saus tomat keju. Masakan kreasi mertuaku, yang mana Jason juga sangat mahir memasak masakan itu. Harus aku akui Di, bakat memasak Jason diturunkan dari mertuaku, mamanya. Dan aku rasa aku harus banyak belajar memasak dari dirinya.

Apa yang terjadi hari ini Di, benar-benar menakjubkan. Aku terpesona melihat setiap gerakan tangan mertuaku sewaktu memasak. Dan bau masakannya. Membuat perutku menyanyikan lagu keroncong sealbum. Rasanya apalagi. Tidak kalah dengan koki restoran terkenal di kota kami. Kira-kira anakku bakalan seperti oma dan papanya tidak ya?

Jangan kuatir Di, bukannya aku tidak pede dengan apa yang ada pada diriku. Aku hanya mencoba untuk mencari kebaikan dalam mertuaku dan tentunya suamiku, Jason. Jangan salah Di, Jason sama dengan aku dan manusia lainnya di dunia ini, TIDAK SEMPURNA. Bukannya dari fisik Di, tapi dari mental, sifat, pembawaan diri bahkan cara berpikir setiap manusia di dunia ini, tidak ada yang sempurna. Kalau ada maka dia adalah penguasa dunia ini, dan tidak ada yang seperti itu selain sang Pencipta segala sesuatunya, Tuhan yang aku percaya. Kalau ada yang bilang Tuhan tidak sempurna, maka orang itu pasti orang yang berpikiran sempit. Menerutku Di, segala sesuatu yang terjadi di dunia ini, entah baik atau buruk, pasti ada sesuatu di balik semua itu. Sesuatu yang indah. Hanya saja kita sebagai manusia tidak bisa melihat hal yang indah itu. Misalkan saja perang dunia I dan II, banyak orang berpikir semua itu tidak perlu terjadi, tidak manusia dan segudang pernyataan negatif lainnya. Tapi siapa yang tahu cerita-cerita di balik perang itu. Tidak semuanya merugikan. Yang ingin aku katakan Di, semuanya itu memang sudah direncanakan Tuhan dan pada waktu Tuhan sesuatu yang indah akan muncul ke permukaan. Sama halnya dengan diriku Di. Mungkin jika saja aku tidak ‘ditetapkan’ menjadi anak yatim piatu yang sebagian besar hidupnya dihabiskan di panti asuhan, aku tidak pernah akan mengenal Jason, bahkan aku tidak pernah menikahinya. Dan inilah aku, isteri dari Jason Chandawinata yang sebentar lagi akan menjadi ibu dari anak yang ada dalam kandunganku. Dan aku sungguh bersyukur akan hal itu, meski masa laluku tidak seindah masa lalu Jason. Tetapi tetap Tuhan menjalankan setiap rencananya dalam hidupku, dalam hidup Jason, dalam hidup mertuaku, dan tentu saja dalam hidup anakku nantinya.

Di, kayaknya cukup sekian dulu. Sekarang sudah larut malam dan aku harus bangun beberapa jam lagi, kembali melakukan kegiatan yang telah dirancang oleh ibu mertuaku. Sampai jumpa besok atau lusa atau minggu depan. Kalau aku sempat. Selamat tidur Di, mimpi indah!


****************************************


24 Juli 1980

Hai Di,
Aku punya kabar baik buatmu. Hari ini aku melahirkan. Anak kembar. Bisa kau bayangkan? Selama sembilan bulan aku mengandung, aku selalu mengira hanya akan melahirkan seorang anak bukannya dua. Yang lebih menggembirakannya lagi, anak yang lahir berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Pagi ini mereka lahir dengan selamat dan kondisi mereka sangat sehat dan tidak cacat. Kami semua bahagia. Terutama Jason. Air mata kebahagian meluncur dari kedua matanya yang teduh itu saat melihat untuk pertama kali dua anak yang dinantikannya. Bahkan mertuaku juga tidak kuasa menahan air matanya.

Aku sungguh bersyukur kepada Tuhan Di, karena anak-anak yang diberikan-Nya kepadaku. Meski tadi, sebelum melahirkan, aku sempat ketakutan membayangkan apa yang harus aku lakukan dan rasa sakit saat melahirkan. Tapi puji Tuhan, semuanya baik-baik saja. Kebahagiaan, kelegaan, dan sukacita melingkupi tidak hanya aku tapi juga Jason dan ibu mertuaku.

Yang lucunya, karena terlalu bahagia, Jason lupa mengabarkan perihal kedua anak yang belum kami namai kepada keluarganya yang lain. Terutama kepada bapak mertuaku yang saat ini tidak dapat berkumpul dengan kami karena kondisi kesehatannya yang kurang baik. Sedih juga jadinya Di.

Di, aku harus memberi susu kepada anak-anakku dulu, nanti kita lanjutkan lagi pembicaraan kita. Bye....


**********************************************


26 Juli 1980
Hari ini aku sedih sekali Di, bukan karena harus kembali ke rumah, tetapi karena oang tua salah satu teman kuliahku meninggal dunia kemarin. Aku mengetahui hal itu dari teman kuliahku yang lainnya. Aku, dia dan beberapa orang lainnya cukup dekat semasa kami kuliah dulu. Dan entah mengapa aku merasa sedih ketika mendengar hal itu. Kehilangan orang tua adalah salah satu hal yang menyedihkan di dunia yang fana ini. Dan aku tahu bagaimana rasanya. Masih mendingan kalau ada alasan kenapa sampai kita kehilangan orang tua, akan tetapi jika tanpa alasan kita kehilangan orang tua itu lebih menyakitkan. Dan entah dimana orang tuaku sekarang berada.

Sebenarnya Di, aku ingin pergi menemui temanku itu, tapi aku tidak bisa. Karena selain rumahnya jauh, di kota lain yang letaknya sangat berjauhan dengan kotaku, aku juga tidak bisa meninggalkan anak-anakku yang baru berumur dua hari. Aku ingin menghubunginya, tetapi aku maupun teman-teman lainnya tidak mengetahui nomor telefon rumahnya yang baru. Berita soal meninggalnya bapaknya pun sampai ke telinga teman-teman dan aku melalui salah satu mantan pacar temanku itu, yang statusnya sekarang berubah menjadi teman biasa. Hampir aku lupa, Rini, itu nama temanku yang saat ini entah berada dimana dan sedang berduka. Entahlah Di, aku tidak tahu harus bilang apa lagi sama kamu soal temanku yang satu ini.

Tapi Di, hari ini aku tidak boleh bersedih di depan anak-anakku, nanti mereka ikutan sedih lagi. Bisa repot jadinya. Kasihan ibu mertuaku. Berapa lama lagi mertuaku harus meninggalkan belahan jiwanya yang sedang sakit.

Soal anak-anakku, aku tidak pernah bisa berhenti berterima kasih kepada Tuhan karena telah memberikan mereka kepadaku. Malaikat-malaikat mungil yang sangat cantik dan tampan. Sungguh Tuhan itu luar biasa. Aku sendiri kagum dibuatnya. Bayangkan saja Di, dari sperma dan sel telur bisa terbentuk satu bahkan dua manusia dalam perut manusia lainnya. Dan hal ini membuatku makin mengagumi Tuhan yang ku percaya.

Tapi Di, kayaknya sampai di sini dulu. Sekarang saatnya minum ASI bagi anak-anakku. Nanti kalau aku sempat, aku akan mengabarkanmu sesuatu. Bye.....


****************************************


Hari telah berganti, bahkan matahari telah berada pada puncaknya, ketika aku menutup diary ibuku. Rasa lapar yang aku rasakan tidak terbendung lagi. Ya, aku melanjutkan kembali aktifitas yang aku lakukan kemarin hingga subuh tadi. Dan entah mengapa, meski aku tidur jam tiga subuh, tetapi tetap aku bangunnya seperti biasa. Apa mungkin karena rasa penasaran yang ada dalam diriku dalam mencari penjelasan yang pasti kenapa aku berbeda dengan orangtuaku.

Tapi semuanya aku nikmati. Jauh dari tuntutan pekerjaan, memang sangat kubutuhkan saat ini. Bahkan jauh dari dirinya untuk sementara waktu sepertinya kuperlukan. Jonathan, dia yang saat ini ingin ku hindari. Bukan karena sesuatu yang buruk, hanya saja, aku belum siap menjawab lamarannya waktu itu. Dan aku belum menemukan alasan yang tepat untuk menerima maupun menolaknya.

Sambil memandang ke luar jendela, aku terkenang masa kecilku. Ketika aku bermain dengan ayahku dan saudara kembarku. Tak terasa air mata mulai menetes di pipiku. Terlintas bagaimana aku tidak rela melepas kepergian ayah yang sangat kucintai lima tahun yang lalu. Aku tidak rela melepasnya karena aku belum puas dengan jawaban yang diberikannya sebulan sebelum kematiannya.

“Kamu adalah anak kandung kami berdua, Jew. Bahkan kamu dan saudara kembarmu adalah kebahagiaan kami berdua. ‘Harta yang tak ternilai’, itu yang ibumu sering katakan kepada ayah. Dan memang kau dan Jeremiah adalah harta kami yang tak ternilai. Kamu harus ingat itu.”

Itu yang selalu dikatakan oleh ayahku. Dan jawaban itu tidak memberikan kepuasan kepadaku. Aku tidak tahu harus bertanya kepada siapa lagi selain kepada kedua orangtuaku yang saat ini aku yakin telah berkumpul kembali di surga, meninggalkanku dengan jawaban yang tidak memuaskan.

Saat ini aku tidak ingin membuang tenagaku dengan emosi yang tak pasti ini. Aku hanya berharap malam ini Jeremiah dan isterinya Nina akan mengajak keluar jalan-jalan atau mungkin malam di luar. Karena aku sangat merindukan kota ini. Lima tahun yang lalu adalah terakhir kali aku datang ke kota ini. Dan tidak banyak yang berubah dari kota ini. Termasuk keindahan alam yang dimilikinya membuatku terpesona setiap kali aku melihatnya.

Mungkin aku lebih baik membaca diary ibuku di halaman belakang kami. Apalagi pada cuaca seperti sekarang ini. Aku hanya berharap dapat menemukan jawaban yang pasti atas semua pertanyaanku.

Diary Ibuku (bag. II)

19 Mei 1980

Hai Di...
Aku tidak harus memulai darimana untuk menceritakan apa yang terjadi hari ini. Oke...akan aku coba. Tunggu sebentar ya, aku mau mempersiapkan diriku dulu. Baik aku sudah siap.

Hari ini adalah kali pertama aku keluar dari rumah bersama-sama suamiku. Kami pergi ke sebuah pusat belanja yang cukup terkenal, karena barang-barang yang dijual disana cukup lengkap dan harganya relatif lebih murah dibandingkan di tempat-tempat belanja lainnya. Apa karena baru buka sampai-sampai harganya murah? Ya, jalan-jalan sambil melihat-lihat siapa tahu aku bisa menemukan pakaian yang cocok untuk si jabang bayi. Tapi bukan itu yang ingin kuceritakan kepadamu. Ini betul-betul diluar dugaanku. Aku tidak pernah sekalipun membayangkannya.

Tadi aku bertemu dengan dia, Ferry, orang yang memperkenalkan aku dengan yang namanya cinta, dan juga yang memperkenalkan aku dengan rasa sakit yang luar biasa akibat putus cinta. Cinta pertama? Entahlah Di, sampai sekarang aku belum bisa menemukan definisi ‘cinta pertama’ yang tepat. Dan sepertinya bukan aku saja yang belum menemukan ramuan yang tepat untuk menyusun definisi ‘cinta pertama’ itu.

Sempat terbesit rasa sakit yang aku rasakan yang diakibatkan oleh dirinya. Dan yang membuat rasa sakit itu bertambah sewaktu dia menyapaku dengan ekspresi seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Berat Di, berat sekali untuk memaafkan seseorang yang sudah menyakiti hati ini disaat diri ini tidak pernah menyakiti orang itu. Meski sekembali di rumah, aku membuka kembali Alkitab yang membicarkan perihal memaafkan. Akan tetapi, meski aku mengerti dan ada keyakinan aku bisa melakukannya, untuk prakteknya sungguh sulit Di.

Dan soal Jason, dia tahu semua perbuatan yang dilakukan oleh Ferry. Tadi aku bisa merasakan amarah yang ditahan olehnya. Itu membuatku makin mencintainya. Sekarang aku tidak akan dibutakan lagi oleh tampang dan rayunya. Karena aku sudah mempunyai Jason dan Tuhan disampingku, dalam setiap langkahku.

Jadi ingat sewaktu Jason melamarku, saat kami sedang merayakan hari jadian yang memasuki bulan ketiga. Keraguan sempat memenuhi hatiku. Waktu itu aku masih trauma. Kalau mau dihitung-hitung, Jason sudah bersamaku kurang lebih selama enam tahun, termasuk pernikahan. Bisa kamu bayangkan Di kesabaran yang dia miliki, menungguku pulih dari lukaku. Dua tahun lebih Di. Dan tidak pernah sekalipun dia mengeluh. Kecuali bulan lalu dan beberapa hari yang lalu. Kejadian yang ingin aku lupakan. Aku bersyukur kepada Tuhan karena telah mengirim Jason disaat aku sedih, dan menjadikannya pendamping hidup yang sempurna.

Kembali ke pertemuan kami dengan Ferry. Aku mengira dia telah menikahi wanita yang membuatnya berpaling dari diriku, tapi ternyata Di Ferry belum menikah-menikah hingga sekarang. Sungguh suatu kejutan apalagi seingatku dulu, aku sempat mendengar kabar bahwa dia akan menikahi wanita itu. Ternyata tidak. Entah apa alasannya aku tidak mau menduga-duga lebih lanjut. Bisa-bisa aku berbuat sesuatu yang seharusnya tidak aku lakukan, bahagia diatas penderitaan orang lain. Untungnya tadi kami tidak berbincang terlalu lama. Soalnya tanganku sudah mulai kesakitan karena digenggam sangat keras oleh Jason. Bisa dibayangkan bagaimana geramnya dia melihat muka Ferry.

Jadi kesimpulannya, hari ini aku mempelajari satu hal. Aku masih perlu belajar untuk melakukan pelajaran memaafkan kesalahan orang lain. Tapi disisi lain Di, aku sangat bahagia. Dan aku mencintai suamiku. Itulah fakta yang ada.

Terima kasih Di sudah mendengarkan ceritaku. Sampai jumpa lagi nanti.

*************************

25 Mei 1980

Dear Diary,
Hari ini aku merasa bahagia sekali. Akhirnya setelah sebulan lebih dipingit oleh suamiku, aku bisa pergi ke gereja. Hari ini sangat aku nantikan. Dimana aku bisa mengangkat rasa syukurku kepada Tuhan yang telah menyempurnakan hidupku sejauh ini. Meski tadi aku sempat mengantuk juga karena kurang tidur semalam. Rasa gugup yang melandaku semalam membuatku terjaga lebih lama dari biasanya. Berjumpa dengan orang lain membuatku merasa... entahlah mungkin lebih hidup. Mungkin karena sebulan ini orang yang ketemui di rumah hanyalah Jason, suamiku dan pembantu kami yang bernama Jovie. Melihat berbagai mimik merupakan suatu hiburan tersendiri bagiku.

Kemarin aku dan Jason pergi ke dokter kandunganku untuk memeriksa kembali kondisi janin calon bayi kami, kebetulan dia tidak kerja hari ini. Dan hasilnya sungguh menggembirakan. Calon bayi kami sehat, lebih sehat dari kondisinya empat bulan yang lalu. Berat badanku juga bertambah, yang mana menurut dokter itu normal-normal saja. Aku tidak perduli kalau badanku naik atau tidak, yang penting anak dalam kandunganku bisa mendapatkan apa yang dia butuhkan. Yang pasti berat badanku masih bisa diturunkan setelah aku memenuhi kebutuhan ASI-nya.

Aku mencoba menahan diriku membayangkan rupa anak kami nantinya. Apakah mukanya akan sama seperti mukaku atau muka Jason? Pertanyaan yang sama yang aku tanyakan sebulan lalu. Tetapi rasa penasaran yang ada dalam hati dan pikiranku terus meluap seiring kebahagian yang aku rasakan dari hari ke hari, selama aku menghabiskan waktuku bersama anak dalam kandunganku.

Tapi Di, aku dan suamiku belum menyiapkan satupun nama untuk kami nantinya. Menurutmu kira-kira nama apa yang cocok untuk anak kami nanti? Ini cukup penting bagiku Di. Biar bagaimana pun aku tidak ingin memberi nama yang bisa dijadikan bahan olokan temannya. Mungkin nanti aku tanya langsung saja sama dia ya? Sama calon bayiku tentu saja Di. Kata orang biar masih dalam kandungan, mereka sudah bisa mengerti apa yang kita ucapkan atau katakan kepada mereka. Siapa tahu ada nama yang disukainya.

Kalau kamu tanyakan kenapa aku ingin melakukan seperti itu Di, jawabannya sederhana saja : Aku ingin anakku sedari kecil tahu apa yang dia inginkan. Oke...tidak sepenuhnya. Tentu saja dia bisa memutuskan setelah mendengar pendapat, argumen dan pemikiran dari aku, ibunya dan Jason, ayahnya. Tapi aku yakin anak dalam kandunganku ini akan menjadi anak yang manis, baik hati dan dengar-dengaran sama orang tuanya. Setidaknya itu yang aku pinta kepada Tuhan dalam setiap doa yang ku panjatkan kepada-Nya.

Ada kejadian yang cukup lucu tadi terjadi ketika kami berada di gereja. Ketika pendeta kami mulai berkhotbah, anak dalam kandunganku pun ikut bereaksi. Dan itu, entah kenapa, membuatku merasa geli dan ingin tertawa terbahak-bahak. Tetapi tentu saja aku tahan, dan tebak siapa yang menjadi sasaran pelampiasanku. Benar, Jason yang menjadi korban pertama kegemasan yang aku rasakan. Dan hampir saja seorang bapak yang cukup tua menjadi korban keduaku jika saja Jason tidak menahanku dan mengorbankan tangan dan lengannya menjadi sasaran pelampiasan rasa geli yang tak tertahankan waktu itu. Dan bisa tebak apa yang terjadi seusai ibadah kami. Jason meluncurkan berbagai pertanyaan atas tindakan yang aku lakukan tadi saat beribadah. Akan tetapi diri ini hanya bisa memberikan senyuman sebagai jawaban atas segala pertanyaannya. Biarlah apa yang terjadi tadi di gereja hanya aku, anakku, kamu Di dan Tuhan saja yang tahu.

Aku tidak bisa membayangkan apa yang dipikirkan oleh Jason setelah, melihat dan bukannya mendengar, jawabanku atas pertanyaannya. Membuatku serasa kembali ke masa mudaku dulu. Mudah-mudahan Jason tidak tersinggung atas jawaban yang kuberikan kepadanya.

Ada satu hal yang hampir aku lupa ceritakan kepadamu. Besok mamanya Jason, ibu mertuaku, akan datang ke rumah kami. Katanya sih mau menemani aku sampai aku melahirkan nanti. Kuatir kalau ada apa-apa dengan aku dan kandunganku. Padahal waktu aku hampir keguguran tidak pernah sekalipun dia menanyakan keadaanku. Dan sudah pasti bukan kuatir kepadaku adalah alasannya datang kemari.

Baiklah, aku rasa sudah cukup Di membicarakan mertuaku. Daripada aku harus menambah dosaku, karena membicarakan mertuaku, ibu Jason, sainganku dalam merebut perhatian Jason. Ini satu hal yang aku belum ceritakan kepadamu Di. Dan kita lihat saja nanti. Semoga aku bisa menahan diriku nanti.

**************************************************

01 Juni 1980

Dear Diary,
Maafkan aku baru mengisimu lagi. Akhir-akhir ini aku cukup sibuk. Cukup disibukkan dengan semua kegiatan yang dirancang oleh mertuaku. Ternyata Di, tidak seburuk yang aku bayangkan sebelumnya. Dan ini seperti jawaban atas doaku setiap hari. Mau tahu isi doaku apa Di? Aku memohon kepada Tuhan supaya selama mertuaku berada di sini, di rumah kami, aku dan dirinya dapat akur satu sama lainnya. Dan sungguh suatu keajaiban, aku bisa tahan menghadapi mertuaku, juga sebaliknya mertuaku bisa tahan dengan semua sikap manjaku yang muncul entah sejak kapan.

Dari dulu aku tidak tahu alasan pasti kenapa beliau begitu membenciku pada awal masa pacaran dan pernikahan kami. Aku enggan menanyakan alasan sebenarnya. Mungkin aku takut mengetahui alasan mertuaku membenciku. Tapi untuk saat ini aku senang hubunganku dengan mertuaku. Dan setidaknya Jason tidak harus memusingkan diri sendiri, karena dua wanita yang dicintainya bertengkar karena hal yang sepele. Aku rasa sudah cukup rasa lelah yang dia rasakan karena pekerjaannya.

Biar aku beritahu sesuatu kepadamu Di, suamiku adalah seorang pekerja keras yang mencurahkan segenap perhatiannya ketika dia sedang bekerja. Aku pernah menanyakan hal tersebut, mengapa dia bekerja begitu kerasnya. Dan kamu tahu apa jawabannya,
“Sederhana saja sayangku. Aku begitu menyenangi pekerjaan ini. Sudah menjadi impianku bekerja di bidang ini. Hasrat yang ku rasakan begitu besar, hingga aku tidak pernah ingin mengeluh ketika ada sesuatu hal yang tidak sesuai harapanku. Tetapi tentu saja pekerjaanku tidak sedikit pun menyaingi dirimu”

Entahlah Di, perkataan menggugah perasaanku waktu itu dan saat ini. Rasa cintanya dan eksistensi yang dia punya membuatku berpikir untuk melepaskan pekerjaanku untuk menjadi isteri yang baik baginya. Tapi apa cukup dengan menjadi baik saja? Bagaimana menurutmu Di?

Di, kayaknya sampai di sini saja perbincangan kita. Aku harus tidur siang ini, berdasarkan jadwal kegiatan yang disusun oleh mertuaku. Daripada harus ribut dengan mertuaku, jadi lebih baik aku turuti setiap kemauannya.

**************************************************

15 Juni 1980

Di, apa kabar?
Sejauh ini aku baik-baik saja, jika itu yang ingin kau tanyakan mengenai kabarku. Aku dan mertuaku sejauh ini baik-baik saja, setidaknya sampai beberapa jam yang lalu ketika aku lupa meminum susu untuk ibu hamil yang sama sekali tidak aku sukai. Dan entah bagaimana, mertuaku tahu kalau aku tidak meminum susu yang dibeli oleh suamiku, anak kesayangannya.

Jadi ingat ketika pertama kali aku harus menghadapi ketajaman lidah mertuaku. Waktu itu untuk pertama kalinya aku diperkenalkan kepada seluruh keluarga Jason. Seluruh keluarga itu termasuk saudara oma Jason, om-om dan tante-tante Jason, sepupu Jason yang entah berapa jumlahnya dan keponakan Jason yang masih kecil-kecil. Keluarga besar yang tidak pernah aku punyai. Pedasnya kata-kata mertuaku pertama kali aku rasakan ketika aku membantunya di dapur. Dapur yang menjadi tempat berkumpulnya para wanita mempersiapkan makanan dan mengatur sisanya untuk dibawa pulang ke rumah masing-masing. Asal kamu tahu aja Di, kondisi dapur saat itu bagaikan film-film yang sering aku tonton. Sebuah keluarga besar berkumpul ketika salah seorang dari mereka, tentu saja yang paling disayangi oleh semua, hendak memperkenalkan calon pendampingnya. Bagi setiap calon isteri itu adalah tahap penilaian dari pihak keluarga. Suka atau tidak suka, harus aku akui, aku dan para isteri lainnya tidak hanya menikahi suami kami semata, akan tetapi kami semua juga menikahi keluarga kami, demikian juga sebaliknya. Aku berharap anakku nanti dapat melewati ‘ujian’ itu dengan mulus.

Kembali ke pertengkaran antara aku dan mertuaku. Sehabis dimarahi ibu mertuaku habis-habisan, - tetapi tidak seperti gambaran ibu mertua jahat yang digambarkan dalam film-film lokal yang banyak aku tonton -, aku mencoba secepat mungkin untuk berbaikan dengannya. Aku tidak bisa membencinya Di. Bisa-bisa anakku nanti mirip mertuaku, omanya, seorang wanita yang jika dilihat sepintas seperti seorang wanita galak, yang kegemarannya marah sepanjang hari. Lebih baik aku membenci Audrey Hepburn yang berakting dengan sangat mengagumkan. Aku suka melihatnya saat dia memerankan setiap peran yang ada. Gadis ceria, periang, fashionable, tetapi pandai dan mandiri di saat yang bersamaan. Dan itulah anakku nantinya ketika dia beranjak dewasa, itu kalau anak yang lahir dari rahim ini adalah perempuan. Kalau laki-laki, dia pasti akan mirip dengan Jason. Pria yang takut akan Tuhan, penyayang, baik hati, sabar, bijaksana, penuh perhatian, walau terkadang dia terkadang melakukan suatu tindakan yang konyol di depan umum, seorang pria idaman setiap wanita. Plus pandai memasak seperti mama, opa dan omanya. Ini rahasia antara kita berdua saja Di, sebenarnya itu tipe pria idamanku. Dan sekarang aku telah mendapatkannya. Jason Chandawinata, pria idaman yang telah kudapatkan, salah satu kiriman spesial dari Tuhan untukku.

Di, sepertinya aku harus mengakhiri pembicaraan kita. Sejam lagi Jason akan pulang rumah. Aku mau menyiapkan makan malam kami dulu. Bye...bye...