BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS »

Thursday, June 25, 2009

Pertemuan (bag. 2)

.... Entah seberapa merah wajahku saat ini.


"Senang berkenalan denganmu, Magie. Tapi, tidak apa-apa kan aku duduk di sini bersamamu?" tanyanya dengan tatapan menyelidik.

"Tidak kok," jawabku singkat.

Selama beberapa detik kemudian, kami berdua terdiam membisu, menikmati minuman yang ada di depan kami sambil diiringi musik jazz yang dilantunkan oleh Norah Jones, salah satu penyanyi kesukaanku.

"Lagunya enak ya?" tanya Lenny mencoba memecahkan keheningan yang ada.

"Iya salah satu lagu kesukaanku," jawabku.

"Jadi kamu suka juga sama musik seperti ini. Sama dengan dirinya," sambungnya.

Dirinya? Kira-kira sapa ya? Penasaran juga, tapi aku rasa tidak sopan menanyakan persoalan pribadi seorang yang baru aku kenal beberapa menit yang lalu. Dan kusadari Lenny sedang memperhatikan raut mukaku dengan pandangan yang penuh selidik, yang mana hal itu baru kusadari ketika aku kembali dari segala lamunanku.

"Sori. Aku melamun lagi yach?"

"Tidak apa-apa. Malahan aku yang harus minta maaf kepadamu karena mengatakan sesuatu yang dapat membuatmu terbang ke dunia lamunan untuk yang kedua kalinya." Kali ini kami berdua tertawa lepas bersama.

"Sebenarnya, apa yang membuat wanita secantik dirimu, duduk minum sendirian di tempat yang dipenuhi pasangan ini?" ujarnya tiba-tiba dan langsung tanpa basa-basi.

Jujur saja aku terkejut dan tidak siap dengan pertanyaan seperti itu. Dan untuk beberapa saat mulutku diam membisu, sedangkan dalam otakku terjadi kejadian yang luar biasa yang mengingatkanku akan salah satu film anak-anak yang belum lama ini kusaksikan. Suatu adegan dimana dalam pikiran si tokoh utama, "diri-dirinya yang lain" sibuk mencari daftar kata-kata atau informasi yang harus diucapkan atau dilakukan, aku tidak terlalu mengingatnya. Itu secara fiksi. Secara nonfiksi, sel-sel otakku sedang mengirim sinyal ke segala penjuru otak untuk menemukan kalimat yang tepat yang dapat dijadikan alasan dan jawaban atas seorang pria yang selama beberapa menit ini menemaniku minum.

"Aku...aku hanya sedang ingin sendirian saja malam ini," ujarku diiringi dengan gerakan tanganku menggapai gelas minumanku yang kemudian kuteguk untuk menutupi segala kegelisahanku saat ini.

"Tetapi menurutku dan kelihatannya, kamu sedang banyak masalah yang harus ditanggung seorang diri. Apakah aku benar?" tanyanya segera setelah aku menjawab pertanyaan sebelumnya. "Kamu boleh menceritakan semuanya kepadaku. Jangan kuatir, aku tidak akan membocorkannya kepada siapapun," lanjutnya dengan lembut.

"Kalau aku harus menceritakan semuanya, sepertinya terlalu panjang. Nanti kamu bosan duluan," ujarku.

Sangat tidak mungkin bagiku untuk menceritakan masalahku kepada orang lain, meskipun pekerjaanya adalah seorang psikiater.

"Tidak apa-apa. Aku mempunyai banyak waktu malam ini. Jadi ceritakan saja semuanya kepadaku. Siapa tahu, meski tidak seberapa, aku bisa membantumu," katanya sembari berusaha meyakinkanku bahwa dirinya dapat dipercaya.

Mungkin, mungki aku cukup mabuk malam ini. Lagipula aku tidak mengenalnya begitu juga dengan orang-orang yang berada di tempat ini. Jadi, kenapa tidak aku menceritakan saja semuanya kepada pria yang duduk diseberangku ini. Siapa tahu beban dalam hati ini dapat berkurang sekilo.

"Sebenarnya kehidupanku selama ini hampir sempurna. Pekerjaan impian telah kuraih. Keadaan finansialku baik-baik saja bahkan melimpah. Aku mempunyai banyak teman dan sahabat-sahabat yang mencintaiku. Hanya saja beberapa minggu terakhir ini, mimpi buruk datang mengacaukan segala sesuatunya," ceritaku sembari melihat kearah sepasang anak muda yang sedang tersenyum bahagia di sudut lain tempat ini.

Dan pria yang duduk berhadapan denganku, Lenny, hanya mengangguk sambil melihat ke arahku. Benar-benar tipikal seorang psikiater.

"Mimpi burukku itu adalah mantanku. Yang dahulunya sangat kucintai tetapi sekarang sangat kubenci. Karena dia meninggalkanku demi harta dari seorang wanita, putri seorang pwngusaha kaya raya. Dan paling buruk, ternyata wanita yang telah menjadi isterinya itu adalah anak dari bos tempatku bekerja. Yang membuatnya secara otomatis, menjadi pimpinanku yang baru," aku berhenti sejenak untuk meneguk minuman yang ada di depanku. "Dan itu membuatku tidak bisa dan susah untuk berkonsentrasi dengan pekerjaanku. Bayangkan saja dia memberiku setumpuk pekerjaan yang sulit dan menghabiskan banyak waktuku untuk menyelesaikannya. Sehingga aku tidak punya waktu lagi untuk sahabat-sahabatku, untuk orangtuaku dan juga untuk diriku sendiri," sambungku.

Dan tanpa terasa mataku mulai penuh dengan air mata. Semua yang kurasakan selama beberapa minggu ini seakan menyeruak perlahan-lahan keluar dari dalam jiwaku. Sedih, marah, bosan, sakit hati dan perasaan lainnya yang tidak dapat kugambarkan dengan kata-kata melebur menjadi satu. Dan tiba-tiba, dengan lembut Lenny menggenggam tanganku.......(Bersambung)

Wednesday, June 24, 2009

Pertemuan (bag. 1)

Sesaat aku melihat ke arah jam dinding yang berada di depanku. Di tempat di mana aku menghabiskan waktuku, melarikan diri dari segala masalah yang aku alami hari ini. Manusia silih berganti mengisi kekosongan di setiap meja yang ada di sekitarku. Entah sudah berapa lama aku duduk seorang diri menikmati setiap tetes minuman yang masuk ke tenggoranku, setiap melodi yang mengalun dari musik yang diputar di tempat ini. Setiap ekspresi yang tampil silih berganti, meski terkadang beberapa dari mereka memandangku dengan ekspresi heran, kasihan (ini adalah ekspresi yang paling tidak kusukai). Tapi apa gunanya menghabiskan tenaga untuk melawan setiap prasangka yang muncul, hanya menambah bebanku saja.

Hari ini cukup berat bagiku. Segala yang terjadi diluar kendaliku. Padahal segala perhitungan yang kubuat, segala semangat yang ada selama sebulan ini hilang buyar, lenyap dalam beberapa menit saja. Dan saat ini, jujur saja aku memerlukan pundak seseorang untuk menjadi tempatku bersandar. Di mana aku bisa berbagi perasaan yang kurasakan saat ini. Jadi jomblo ada untung dan ruginya. Untungnya, aku bebas kemana saja seorang diri tanpa harus mempertimbangkan keinginan orang lain. Ruginya, saat mengalami hari yang buruk seperti hari ini, dan hari yang baik seperti sebulan yang lalu, aku tidak membaginya dengan orang lain yang sangat spesial.

Pencarianku terhadap orang yang spesial itu terhentikan oleh kesibukan yang aku alami semenjak posisiku di kantor yang kian meningkat. Perlahan, setiap pri yang dekat dan yang kusukai menjauhkan diri mereka dari sisiku. Entah apa salahku selama ini. Aku sudah berusaha sebisa yang bisa kulakukan untuk membagi waktu antara pekerjaan, percintaan, waktu untuk diriku dan waktu untuk Penciptaku. Tapi tetap saja tidak cukup bagi mereka. Meski begitu, hatiku masih mendambakan sosok yang bisa menerima diriku apa adanya dan yang mau berterusterang dengan apa yang dirasakannya. Seseorang yang sesuai dengan kriteriaku.

Dan di saat yang bersamaan, mataku menangkap sebuah sosok yang sedang memandangku. Aku mencoba untuk mengacuhkannya, tetapi dia malah ke meja tempatku duduk.

"Malam, boleh aku bergabung denganmu?" seru pria itu, yang lansung duduk tanpa menunggu jawaban dariku.

"Sendirian yach?" Pertanyaan pria yang ada di depanku membuatku merinding. Seakan profesinya sehari-hari adalah peramal yang bisa membaca pikiran setiap orang.

"Aku rasa itu bukan urusanmu. Aku sendiri atau sedang menunggu seseorang, tidak ada yang berhak mengaturnya selain daripada diriku sendiri," sebuah jawaban yang sedikit ketus mengalir dari mulutku.

"Maafkan saya. Saya sudah tidak sopan terhadap Anda. Perkenalkan nama saya Leonard, tetapi teman-teman saya biasa memanggil saya Lenny. Dan saya adalah seorang psikiater," ujarnya panjang lebar, "dan orang yang sedang saya tunggu sepertinya tidak jadi datang," lanjutnya sambil melihat ke seluruh sudut ruangan sesudah melihat jam tangannya.

Aku hanya terdiam mengamati setiap senti wajahnya. Karena menurutku tampangnya tidak menunjukkan sosok psikiater yang biasa kulihat dalam film-film. Dia terlalu muda dan tampan untuk menjadi seorang psikiater. Alisnya yang tebal serta mukanya yang sangat jantan membuatku sedikit melayang membayangkan bagaimana rasanya menjadi pacarnya. Dan bahkan membayangkan menjadi isterinya. Yan seketika itu juga aku jatuh cinta kepada sosok Lenny. Dan menurut Elaine, sahabatku, ini merupakan salah satu dari sekian banyak kebiasaan burukku.

"Halo...Lagi ngelamunin apa?" ujarnya setengah menggoda.

Aku tidak tahu sudah berapa lama aku memandangi wajahnya, dan juga entah berapa lama dia menyadari kalau aku sedang memandanginya.

"Maaf, tadi melamun. Ngomong-ngomong, namaku Margaret, dan teman-temanku biasa memanggilku Magie dan aku bekerja di bagian kreatif majalah Rainbow," sahutku. Entah seberapa merah wajahku saat ini.
.......(Bersambung)