BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS »

Thursday, November 5, 2009

Diary Ibuku (bag. V)

Tanpa kusadari, aku telah tertidur dengan pulas tadi. Mungkin karena kelelahan menangis. Memang betul yang mama katakan dalam diarynya ini, terlalu mengikuti emosi memakan banyak tenaga. Tetapi perasaan yang menumpuk dalam hati ini sudah tidak dapat tertampung lagi. Dan rasanya lega.

Matahari saat ini telah siap untuk beranjak ke negeri seberang yang menantinya. Satu hari catatan mama telah selesai aku baca. Jujur saja, sampai saat ini aku malu dengan segala kelakuanku saat muda dahulu. Aku tidak pernah membayangkan betapa mama bangga dengan semua yang aku lakukan, meski itu membuatnya kuatir. Entah bagaimana mama melakukannya. Selalu optimis dengan masa depanku disaat orang lain meragukannya. Apa yang membuat mama sekuat itu? Apakah pengalaman hidup sebelum berjumpa papa membuat mama menjadi kuat?

Dari dulu aku selalu mencoba mengerti apa yang terjadi dengan sekitarku, apa yang orang lain rasakan ketika mereka melarangku, menasihatiku dan ketika aku memilih untuk cuek dan melakukan segala sesuatunya sesuai dengan yang aku inginkan, tapi tetap aku tidak bisa mengerti. Aku sebenarnya cemburu dengan Jeremiah, kembaranku. Dia lebih peka dengan segala sesuatunya, sehingga orang lebih menyukainya dibandingkan dengan aku. Dan tentu saja ujung-ujungnya dan akhirnya semua orang, kecuali mama dan papa, mulai membanding-bandingkan kami berdua. Hatiku terasa sakit ketika mendengar semua itu. Aku dan Jeremiah berbeda meski kami dilahirkan sebagai kembar. Aku heran kenapa semua orang tidak mau pernah mengerti bahwa kami berdua memang berbeda.

Untung saja aku bukanlah Jewel yang lama. Jewel yang akan bertindak dengan penuh emosi ketika mendengar orang lain menjelek-jelekkan dirinya. Sekarang aku bisa lebih tenang. Kalau dahulu aku suka membanting pintu karena marah ketika orang membandingkan kami berdua, sekarang aku hanya menyerang kembali bahkan cuek dan menganggap lalu apa yang mereka katakan. Dan itu terjadi karena aku sudah bosan dan jenuh menanggapi setiap anggapan dengan penuh emosi. Meski sesak dalam dada yang harus aku tanggung. Tetapi aku tidak mau membuat malu almarhum papa lagi. Karena aku telah berjanji kepadanya untuk menjadi lebih dewasa dalam berpikir dan bertindak.

Terkadang aku kesulitan memenuhi janjiku kepada papa, karena aku masih sering bertindak tanpa berpikir terlebih dahulu. Aku jadi kasihan sama mereka yang menjadi korban pelampiasan amarahku. Terutama dia. Yang tetap setia mendampingiku kala suka dan duka. Meski ingin menghindarinya, tetapi aku rindu akan suaranya, akan senyumannya, akan kekonyolannya, akan sosoknya yang mengisi hari-hariku dengan kehangatannya. Entah apa yang sedang dilakukan Jonathan saat ini. Aku sangat merindukannya. Apa dia merindukanku juga di sana?

*************************

30 Juli 1999

Aku takut Di,
Aku takut kehilangan Jason, Di. Hari ini aku mendengar kabar yang hampir membuatku tidak mampu untuk berdiri dengan kedua kakiku. Di, Jason akan segera meninggalkanku dan aku tidak tahu apakah aku mampu untuk hidup dan tinggal di dunia ini tanpa kehadirannya. Tuhan, kenapa sampai ini terjadi atas Jason. Aku tidak mampu Di, membayangkan semuanya. Meski masih ada dua tahun tersisa, tapi rasa-rasanya tubuhku kehilangan sumber kekuatannya. Aku merasa begitu lelah dan lemah Di. Melebihi kelelahan yang aku rasakan ketika bekerja.

Aku tidak tahu bagaimana harus mengatakannya kepadamu. Aku tidak tahu harus bilang apa ke anak-anakku. Aku tidak ingin mereka kuatir dengan persoalan lain selain dari masalah dalam kuliah mereka. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi Di. Aku... benar-benar takut kehilangan Jason Di.

Segala hasratku, kekuatanku serasa hilang ditiup angin sepoi-sepoi. Aku tahu setiap orang pasti akan menghadapi kematian. Tetapi kenapa harus Jason, dan kenapa dengan penyakit yang seperti itu Di. Aku tidak dapat menyalahkan siapapun bahkan Tuhan sekalipun, karena......

Entahlah Di, aku hanya bisa berdoa dan berharap, Jason dapat menikmati sisa hidupnya dengan bahagia. Aku tidak mau dia merasakan kepedihan yang mendalam dan kesusahan karena harus meninggalkan kami. Aku...

Beberapa kata dalam diary ibuku kali ini terhapus karena titik air. Ini titik air biasa atau titik air mata? Entah kenapa aku dapat merasakan apa yang mama rasakan waktu itu. Kepedihan yang luarbiasa. Dan ini berarti kata-kata yang pudar itu diakibatkan oleh air mata mama.

Jujur saja, seumur hidupku aku jarang melihat mama menangis. Hanya pada saat opa dan oma meninggal, mama menitikkan air mata. Kalau bisa kusimpulkan mama menangis hanya pada saat dia sedih. Aku...entahlah. Apa yang terjadi pada saat kami tidak ada di rumah? Pertanyaan ini mulai muncul di kepalaku. Karena waktu itu tidak ada yang memberitahu kami mengenai apapun. Apa tante Ana tahu apa yang terjadi? Mengingat selama kepergian kami, tante Ana yang selalu bersama-sama mama dan papa. Mungkin lebih baik aku menghubunginya sekarang. Karena aku ragu apakah kematian papa lima tahun yang lalu murni karena ‘sudah waktunya’ untuk meninggal.

*************************

Aku sangat terkejut mendengar apa yang tante Ana ceritakan di telefon beberapa menit yang lalu. Aku tidak percaya, bagaimana mungkin mama dan papa tidak menceritakan hal sepenting ini kepada aku dan Jeremiah.

“Pasti ada alasannya sampai kalian tidak diberitahu selain karena orang tua kalian tidak ingin kalian kuatir. Dan yang tahu alasannya hanyalah almarhum orang tua kalian, yang saat ini tidak dapat menjawab langsung alasan mereka. Mungkin, lebih baik kamu terus membaca buku harian yang diwariskan oleh mama kamu. Siapa tahu mama kamu menuliskan alasannya. Maaf yah Jewel, tante tidak bisa menceritakan banyak kepadamu.”

Itulah yang dikatakan oleh tante Ana sewaktu aku meminta penjelasan mengenai apa yang terjadi. Yang terjadi sembilan tahun yang lalu, menurut tante Ana, papa tiba-tiba jatuh pingsan di kantor tempatnya bekerja. Dan hasil pemeriksaan para dokter adalah kanker otak dan waktu yang tersisa untuk papa hidup saat itu hanya dua tahun. Tapi entah bagaimana papa dapat bertahan hingga lima tahun yang lalu, saat aku dan Jeremiah berhasil menyelesaikan kuliah kami.

Marah, sedih, terharu, menyesal, perasaan itu bercampur aduk dalam hatiku saat ini. Aku masih tidak menyangka dan heran kenapa mama dan papa tega tidak memberitahukan kepada kami apa yang sebenarnya terjadi. Seandainya aku tahu lebih awal, pasti aku akan berhenti dari kuliahku dan kembali ke rumah untuk merawat papa. Tapi ini membuatku kembali berpikir, apakah semua ini sudah diperhitungkan oleh papa dan mama saat itu?

Aku harus menyelesaikan membaca diary mama saat ini. Siapa tahu aku bisa menemukan jawaban, dan mungkin saja dugaan tante Ana benar. Mama menulis alasan dari pertanyaan yang ada di kepalaku sebelum masa berliburku habis. Karena waktu berlalu dengan cepat ditempat ini. Dan tinggal seminggu waktu yang tersisa dari waktu yang ada. Semoga semuanya dapat terpecahkan.

*************************

26 Agustus 2003

Di, tiga tahun sudah semenjak Jason divonis mengidap penyakit kanker otak. Waktu berlalu dengan cepatnya di tempat ini. Sudah sebulan kedua anakku menyelesaikan kuliah mereka dan bekerja menurut keinginan mereka masing-masing. Dan aku senang akhirnya Jeremiah memilih untuk melanjutkan usaha yang sudah kurintis selama kurang lebih enam belas tahun. Meski aku ingin Jewel juga turut terlibat dalam usahaku, tetapi aku tidak bisa melarangnya untuk memilih sesuatu yang dia senangi.

Aku kuatir Di, apakah selama ini aku telah salah mengasuh Jewel. Apakah selama ini yang kuajarkan cukup baginya? Memang harus kuakui, perhatian yang kuberikan kepada anak-anakku tidak sebesar yang kuberikan kepada pekerjaanku. Kalau itu alasan Jewel menghindariku, aku merasa sangat bersalah Di. Aku telah menjadi contoh yang buruk baginya. Entah aku harus berbuat apa untuk memperbaikinya.

Tapi Di, semalam aku bermimpi yang aneh tapi menyedihkan. Aku bermimpi Jason menaiki sebuah kapal pesiar yang indah, yang selalu diimpikannya, dan tidak pernah kembali lagi ke sisiku. Aku takut Di. Aku takut semua mimpiku itu menjadi kenyataan. Ingin rasanya aku bercerita kepada anak-anakku perihal penyakit Jason. Tetapi Jason melarangku.

“Aku tidak ingin menjadi beban kalian,” itu katanya. Membuat hatiku hancur.

Di, aku kembali nanti lagi. Ada sesuatu yang terjadi dengan Jason. Bye...

*************************

11 Mei 2008

Di, sepertinya sebentar lagi kita akan berpisah. Aku sudah mencoba bertahan selama yang aku mampu. Penyakit yang aku derita ini biarlah itu menjadi tanggunganku seorang diri. Oleh karena itu anak-anakku tidak mengetahui kondisi kesehatanku yang sebenarnya. Aku tidak ingin membuat mereka kuatir.

Aku bahagia dengan keadaan anak-anakku saat ini. Jeremiah, saat ini dia adalah seorang ayah dari sepasang anak kembar yang lucu. Aku sudah punya cucu, Di. Tidak terasa aku sudah sedemikian tuanya. Usahaku berkembang dengan pesat di tangan Jeremy dan isterinya, Hannah, wanita cantik yang baik hati. Penyakitku seakan terlupakan dengan kehadiran Jeremy dan keluarga barunya. Sedangkan Jewel, kabar terakhir yang aku dengar dia sudah naik jabatan menjadi manajer di perusahaan periklanan tempat dia bekerja. Aku merindukan Jewel, Di. Aku ingin meminta maaf kepadanya. Hartaku yang berharga.

Tapi Di, hanya Jason yang paling kurindukan. Empat tahun lebih semenjak kepergiannya. Pasti, ya pasti aku akan berjumpa dengannya lagi di surga. Tidak Di. Bukannya aku pesimis dengan kondisi tubuhku. Tapi aku sudah siap jika seandainya Tuhan memanggilku untuk pulang ke sisi-Nya. Oleh karena itu Di, ini perjumpaan terakhir kita. Namun sebelumnya aku ingin meminta bantuan darimu. Aku ingin menulis sesuatu untuk dibaca oleh Jewel.

Anakku Jewel,
Mama tahu selama ini kau cukup terluka dengan segala tindakan mama. Mama tahu perhatian yang mama berikan kepadamu tidaklah mencukupi apa yang kau butuhkan. Karena itu mama ingin meminta maaf kepadamu bila mama tidak sempat mengucapkannya langsung kepadamu. Tapi, mama ingin kamu tahu, mama selalu mencintai dan menyayangimu. Mama selalu bangga dengan keberhasilanmu. Karena kau dan Jeremiah adalah harta mama yang paling berharga.

Maafkan mama Jewel, karena tidak bisa terus mendampingimu sampai kau menikah nanti. Mama tahu bahwa kamu sudah mempunyai pacar di sana, dan hubungan kalian sudah sampai ke tahap yang serius. Mama tahu semua itu dari Jeremy. Mama hanya ingin kau tahu, jika dia adalah orang yang mencintaimu dengan setulus hatinya dan membuatmu tidak dapat hidup tanpa kehadirannya. Maka janganlah ragu-ragu untuk menikahinya. Pasti dialah orang yang dikirim oleh Tuhan untuk mendampingimu selamanya. Mama terus mendoakan kalian tanpa henti. Dan mama yakin Tuhan akan memberikan kebahagian dan kehangatan yang sama yang telah Tuhan berikan kepada mama dan papa.

Yang terakhir Jewel, di dalam laci meja kerja mama, ada sebuah hadiah yang mama telah siapkan untukmu. Mungkin tidak terlalu berharga, tapi sebuah buku harian supaya ceritamu bisa kau tulis dan bisa kau berikan kepada anakmu. Mama harap kau mau menerimanya.

Mama mencintaimu Jewel... Mama mencintai kalian berdua...


*************************

Tanpa terasa air mataku mengalir tanpa terhenti. Kenapa mama tega tidak meminta maaf kepadaku langsung. Aku...aku menyesal. Selama ini aku salah menduga semua tindakan mama. Aku anak yang tidak berbakti. Aku....juga sayang mama.

Ketukan pintu membuatku harus menahan sebentar isak tangisku. Sebuah sosok yang kurindukan sedang berdiri didepanku dengan tatapan yang selalu membuatku luluh jika melihatnya. Seketika juga aku berhamburan memeluknya dengan erat. Air mataku kembali mengucur dengan derasnya. Aku tidak perduli apa yang dia pikirkan. Tapi saat ini aku membutuhkan pundaknya untuk mencurahkan semua yang kurasakan. Kepedihan yang tak terperikan.

“Menangislah sepuasmu, sayangku. Aku akan selalu berada di sisimu.”

*************************

Hampir setahun berlalu semenjak kematian mama. Selama itu banyak hal yang telah berubah dalam kehidupanku juga sifatku sedikit demi sedikit berubah oleh waktu dan cinta. Akhirnya aku bisa memaafkan mama dan diriku sendiri. Hari yang baru telah kujalani. Hatiku juga diperbaharui. Aku adalah Jewel yang baru. Seorang wanita yang penuh kasih sayang dan penuh kebahagiaan. Seorang calon ibu dari anak yang saat ini berada dalam kandunganku. Seorang kekasih, isteri dari orang yang kucintai. Dan saat ini aku akan melanjutkan kisahku yang belum lama ini kumulai dalam buku harian pemberian mama. Buku harian kepunyaanku...

*************************

15 April 2009

Dear Diary,
Hari ini anak dalam perutku gembira ketika mendengar musik yang biasa mama dengar dahulu. Kira-kira dia jadinya kayak siapa ya? Mirip aku atau Jonathan......

p.s. Inilah akhir dari sebuah awal yang baru....

0 comments: