Sesaat aku melihat ke arah jam dinding yang berada di depanku. Di tempat di mana aku menghabiskan waktuku, melarikan diri dari segala masalah yang aku alami hari ini. Manusia silih berganti mengisi kekosongan di setiap meja yang ada di sekitarku. Entah sudah berapa lama aku duduk seorang diri menikmati setiap tetes minuman yang masuk ke tenggoranku, setiap melodi yang mengalun dari musik yang diputar di tempat ini. Setiap ekspresi yang tampil silih berganti, meski terkadang beberapa dari mereka memandangku dengan ekspresi heran, kasihan (ini adalah ekspresi yang paling tidak kusukai). Tapi apa gunanya menghabiskan tenaga untuk melawan setiap prasangka yang muncul, hanya menambah bebanku saja.
Hari ini cukup berat bagiku. Segala yang terjadi diluar kendaliku. Padahal segala perhitungan yang kubuat, segala semangat yang ada selama sebulan ini hilang buyar, lenyap dalam beberapa menit saja. Dan saat ini, jujur saja aku memerlukan pundak seseorang untuk menjadi tempatku bersandar. Di mana aku bisa berbagi perasaan yang kurasakan saat ini. Jadi jomblo ada untung dan ruginya. Untungnya, aku bebas kemana saja seorang diri tanpa harus mempertimbangkan keinginan orang lain. Ruginya, saat mengalami hari yang buruk seperti hari ini, dan hari yang baik seperti sebulan yang lalu, aku tidak membaginya dengan orang lain yang sangat spesial.
Pencarianku terhadap orang yang spesial itu terhentikan oleh kesibukan yang aku alami semenjak posisiku di kantor yang kian meningkat. Perlahan, setiap pri yang dekat dan yang kusukai menjauhkan diri mereka dari sisiku. Entah apa salahku selama ini. Aku sudah berusaha sebisa yang bisa kulakukan untuk membagi waktu antara pekerjaan, percintaan, waktu untuk diriku dan waktu untuk Penciptaku. Tapi tetap saja tidak cukup bagi mereka. Meski begitu, hatiku masih mendambakan sosok yang bisa menerima diriku apa adanya dan yang mau berterusterang dengan apa yang dirasakannya. Seseorang yang sesuai dengan kriteriaku.
Dan di saat yang bersamaan, mataku menangkap sebuah sosok yang sedang memandangku. Aku mencoba untuk mengacuhkannya, tetapi dia malah ke meja tempatku duduk.
"Malam, boleh aku bergabung denganmu?" seru pria itu, yang lansung duduk tanpa menunggu jawaban dariku.
"Sendirian yach?" Pertanyaan pria yang ada di depanku membuatku merinding. Seakan profesinya sehari-hari adalah peramal yang bisa membaca pikiran setiap orang.
"Aku rasa itu bukan urusanmu. Aku sendiri atau sedang menunggu seseorang, tidak ada yang berhak mengaturnya selain daripada diriku sendiri," sebuah jawaban yang sedikit ketus mengalir dari mulutku.
"Maafkan saya. Saya sudah tidak sopan terhadap Anda. Perkenalkan nama saya Leonard, tetapi teman-teman saya biasa memanggil saya Lenny. Dan saya adalah seorang psikiater," ujarnya panjang lebar, "dan orang yang sedang saya tunggu sepertinya tidak jadi datang," lanjutnya sambil melihat ke seluruh sudut ruangan sesudah melihat jam tangannya.
Aku hanya terdiam mengamati setiap senti wajahnya. Karena menurutku tampangnya tidak menunjukkan sosok psikiater yang biasa kulihat dalam film-film. Dia terlalu muda dan tampan untuk menjadi seorang psikiater. Alisnya yang tebal serta mukanya yang sangat jantan membuatku sedikit melayang membayangkan bagaimana rasanya menjadi pacarnya. Dan bahkan membayangkan menjadi isterinya. Yan seketika itu juga aku jatuh cinta kepada sosok Lenny. Dan menurut Elaine, sahabatku, ini merupakan salah satu dari sekian banyak kebiasaan burukku.
"Halo...Lagi ngelamunin apa?" ujarnya setengah menggoda.
Aku tidak tahu sudah berapa lama aku memandangi wajahnya, dan juga entah berapa lama dia menyadari kalau aku sedang memandanginya.
"Maaf, tadi melamun. Ngomong-ngomong, namaku Margaret, dan teman-temanku biasa memanggilku Magie dan aku bekerja di bagian kreatif majalah Rainbow," sahutku. Entah seberapa merah wajahku saat ini.
.......(Bersambung)
Wednesday, June 24, 2009
Pertemuan (bag. 1)
Posted by Jennifer at 12:55 PM
Labels: Short story
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

1 comments:
blum bisa mencerna dengan baik ceritanya.. maklum lagi ngantuk berat. besok tak lanjutin baca.. skalian minta ijin untuk dijadikan konten www.dud-dee.org
keep writing..
Post a Comment